Selasa, 02 Juli 2013

Menggenggam Dunia – (17) Pertempuran Dimulai

“Kepada seluruh peserta Lomba Murid Teladan Sekolah Dasar Tingkat Kota diharapkan berkumpul di ruang perlombaan, dan kepada para pendamping dimohon untuk keluar ruangan karena perlombaan akan segera dimulai. Terimakasih.” ucap operator dengan speakernya.

Rahmat tidak banyak berbicara dan hanya tersenyum, terlihat mukanya sangat gugup karena perlombaan pertamanya akan dimulai. Ia segera pamit kepadaku, Pak Romli sebagai pendamping serta teman-temannya. Motivasi dari teman-temannya membuat Rahmat sedikit lebih tenang.

Sebanyak dua puluh delapan peserta yang mengikuti perlombaan, dan hanya dua belas peserta yang masuk dalam babak kedua. Semoga minimal Rahmat masuk ke babak kedua sesuai harapan pak Romli dan guru lain.

Aku melihat profil data peserta yang diberikan Pak Romli. Dua puluh empat peserta siswa kelas lima dan empat peserta siswa kelas empat termasuk Rahmat. Terbesit pertanyaan ketika aku melihat terdapat dua sekolah dengan dua perwakilan.

“Pak, bukankah tiap daerah mewakili satu orang?” tanyaku pada Pak Romli.

“Benar, terkecuali dengan perwakilan sekolah yang berhasil masuk dua besar murid teladan tahun lalu. Di daftar tersebut, ada dua sekolah yang wakilnya dua peserta, pihak juri menilai demikian karena menganggap masih terdapat siswa yang layak bersaing  pada perlombaan ini dari setiap sekolah yang berhasil masuk dua besar.”

Aku mengangguk mendengar penjelasan dari Pak Romli, karena memang masuk akal untuk memberi kesempatan pada saingan sang juara di tiap sekolah untuk mengikutinya.

“Dua peserta dari SD Gentra itu yang harus diwaspadai.” Ungkap Pak Romli.

“Kenapa, Pak?”

“Semenjak diadakannya perlombaan siswa teladan sepuluh tahun yang lalu hingga sekarang, SD Gentra selalu masuk ke babak selanjutnya. Bahkan tiga tahun berturut-turut menjuarai perlombaan ini, tetapi sayangnya dipatahkan rekornya oleh SDN Pajajaran yang menjuarainya  tahun lalu dan SD Gentra diposisi kedua. Tentunya kedua SD itu berhak melaju ke tingkat provinsi karena masing-masing kota mewakili dua peserta.”

Aku melihat nama dari data peserta yang mewakili SD Gentra yaitu Fauzi dan Arif sedangkan yang mewakili SDN Pajajaran adalah Taufik dan Dewangga.

“Melihat dari segi prestasi, ke empat orang tersebut pantas masuk babak final.” Ucap Pak Romli.

“Prestasinya apa saja, Pak?”

“Fauzi pernah menang menjuarai lomba cerdas cermat saat ia duduk di bangku kelas empat, dia sangat pintar dalam berkomunikasi dan pandai menganalisis masalah. Arif tak kalah hebatnya, walau ia hanya sesekali berprestasi tetapi ia termasuk anak yang cerdas. Untuk Taufik dan Dewangga, saya kurang terlalu paham dengan kelebihan mereka, setau saya Taufik adalah anak yang pintar dari SDN Pajajaran, dan Dewangga cakap dalam bahasa Inggris.” jelas Pak Romli.

Mendengar semua cerita dari Pak Romli tentang profil peserta, membuatku sedikit pesimis dengan kemampuan Rahmat. Aku meyakini Rahmat tidak kalah bersaing dengan ke empat peserta itu dari kelebihannya yang ia punya, tetapi bagaimanapun pengalamanlah yang berbicara di setiap perlombaan. Walau Rahmat tidak juara, setidaknya ia mempunyai pengalaman dari perlombaan ini.

Aku sesekali mengintip Rahmat lewat jendela. Terlihat ia sangat tenang dibandingkan dengan peserta lain dalam mengerjakan soal-soal ujian.
Semoga perlombaan ini menjadi batu loncatan Rahmat untuk terus berprestasi.

***

Bel tanda ujian selesai telah bunyi, satu per satu kertas ujian para peserta diambil oleh panitia lomba. Terlihat dari wajah para peserta keluar dengan mimik muka yang beraneka ragam, ada peserta yang kesal dan ada pula yang bangga. Aku melihat Rahmat dengan bangga keluar dari ruangan. Teman-teman Rahmat dengan lekas mendekatinya bak menyambut superhero.

“Gimana Met? Bisa gak?” tanya Ento, teman Rahmat.

“Ya gitu deh.” Canda Rahmat.

“Wah Mamet calon pengganti Isak sama Albet nih.” Timpal Saiful.

Rahmat dan teman-temannya terlihat sangat harmonis. Melihat mereka mengingatkanku dengan masa kecil. Masa disaat kebahagiaan nyaris sempurna dalam hidupku.

“Bagaimana soal ujiannya, Mat?” tanya Pak Romli.

“Jujur Pak, cukup susah. Terutama soal bahasa Inggris, ada kata-kata yang sulit.” Ucap Rahmat.

Aku tersenyum dengan ucapan polosnya, walau Rahmat berkata susah tetapi mimik wajahnya yang bahagia terlihat bahwa ia sukses mengerjakan soal. Aku mengusap rambut Rahmat.

“Ya sudah, Bapak dengar pengumuman satu jam lagi. Lebih baik kita istirahat dulu dan semoga saja Rahmat bisa masuk ke babak kedua.” Harap Pak Romli.

“Memang ada berapa babak , Pak?” tanya Rahmat.

“Ada tiga babak, Mat. Berdoa saja, dan yakin kamu harus bisa masuk babak final ya. Yakin dengan kemampuanmu, dan kamu jangan sedih jika belum bisa masuk babak berikutnya. Anggap perlombaan ini sebagai rintangan pertama dalam menghadapi tantangan berikutnya agar lebih siaga. Siap?”

“Iya Pak, terima kasih sudah semangati Rahmat.” balas Rahmat.

“Met, kita keliling tempat ini dulu yuk! Gila, bagus banget ni gedung, beda sama sekolahan kita.” Ajak Saiful dengan bercanda.

“Kak Arkan, Pak Romli, Rahmat keliling dulu sebentar ya. Nanti Rahmat ke tempat ini lagi.” Pinta Rahmat.

“Kamu kan harus istirahat, Mat.” Jawabku.

“Tidak apa-apa, Mas Arkan. Biar mereka bermain dulu.” Ramah Pak Romli.

Rahmat menatapku kembali dengan penuh harap, ia tak akan pergi tanpa seizinku

“Ya sudah, jangan jauh-jauh ya.”

Rahmat dan teman-temannya senang dan segera beranjak untuk mengelilingi gedung. Suasana di gedung ini memang cukup menentramkan hati, pemandangan sekitar dikelilingi taman yang dipenuhi dengan hiasan bunga beraneka warna. Terdapat beberapa burung dalam sangkar dan kelici yang dibiarkan bebas di taman. Indah dan unik, udara tak seburuk yang aku bayangkan jika berada di kota. Udara sekitar sungguh segar mungkin karena banyaknya tanaman yang bermekaran mengelilingi gedung.

“Saya yakin, Mas Arkan pasti sedang menikmati pemandangan di sekitar gedung ini.” Ucap Pak Romli, mengejutkan lamunanku.

“Wah, iya Pak. Bapak tau saja, pemandangannya seperti bukan di kota ya, Pak. Pertama masuk ke tempat ini, saya sempat terkejut dan terpana dengan tempat ini. Pemandangan indah yang baru kali ini saya rasakan di tengah-tengah kota.”

Sumber:  http://aliwasi.wordpress.com



Menggenggam Dunia – (16) Harapan

Waktu terus berjalan bagaikan air yang mengalir. Banyak liku dan banyak tebing yang harus dilalui. Kenangan pahit bersama Ratih, perlahan telah terhapus dari rasa sakit hatiku. Setelah kejadian itu, Ratih tidak pernah berbicara denganku bahkan jarang untuk menemuiku atau sekedar memberi makanan. Tali silaturahmi padanya seakan putus dalam sekejap, padahal sebelumnya Ratih dan aku sangat akrab untuk berbicara.

Rahmat turut bersedih dan menyesal dengan ucapannya karena ia terlalu yakin bahwa Ratih juga memiliki perasaan yang sama denganku. Yang sangat menyakitiku, Ratih tidak pernah cerita tentang tunangannya bahkan sikapnya padaku seakan memberi harapan. Harapan hampa dan kesempatan yang membuatku melambung dengan kesenangan dibalas dengan menjatuhkan hatiku ke palung yang paling terdalam.

Sangat wajib untuk melupakan kenangan itu.

***

Rahmat terus berjuang dengan giat setelah ia sembuh dari demamnya. Semua buku pelajaran bahkan buku kedokteranku tak luput ia baca, tentunya hanya teori kedokteran yang sederhana semacam penyebab penyakit dan cara kesembuhannya.

Waktu untuk bermain dengan teman sebayapun semakin dikurangi, tetapi bukan berarti tidak pernah bermain. Terkadang teman-teman Rahmat mampir ke rumah dan temannya minta diajarkan pelajaran sekolah pada Rahmat. Memang unik, sebenarnya siapa yang sekolah terlebih dahulu? Tapi secara tingkatan kelas itu sangat wajar, Rahmat adalah siswa kelas empat, sedangkan teman-temannya kelas tiga dan kelas dua.

Sepulang sekolah, Rahmat tidak pernah absen untuk hadir dalam pelajaran tambahan oleh guru pembimbingnya. Bahkan Pak Romli terlalu sering mengantarkannya pulang dan berbicara kepadaku tentang perkembangan Rahmat. Pak Romli menceritakan tentang kekagumannya pada Rahmat, tak tangung-tanggung ia mengkategorikan Rahmat sebagai anak yang sangat jenius. Aku merinding mendengarnya dari Pak Romli.

“Lomba akan diadakan dua hari lagi, Mas. Saya harap Mas Arkan bisa membimbing Rahmat di rumah, dan sebaiknya untuk besok Rahmat istirahat di rumah agar lebih siap untuk menghadapi ujian.” Ungkap Pak Romli.

“Pasti, Pak. Ini kesempatan Rahmat untuk berprestasi. Saya pribadi dan tentunya almarhum kedua orangtuanya akan sangat bangga pada Rahmat. Jika boleh tau, bagaimana sikap Rahmat di sekolah?”

“Dia memiliki pengetahuan yang luas. Ketika saya ajukan sesi tanya jawab tentang solusi suatu permasalahan, betapa hebatnya ia mengeluarkan ide-ide cemerlang yang dibungkus dengan kata-kata yang rapi. Seakan-akan dia sudah ahli dalam solusi yang ia berikan itu. Makan apa sih Rahmat itu?” candanya.

“Hahaha, seperti biasa Pak, makan seadanya. Memang di rumah ia selalu  membaca buku mengenai hal-hal yang baru, ia langsung bertanya jika ada hal yang ingin diketahui. Selama ini yang saya ketahui bahwa Rahmat tidak terlalu menyukai dengan pelajaran kesenian. Semoga saja, kelemahan itu tidak ditunjukan saat Rahmat mengikuti lomba tersebut.”

Pak Romli terdiam sesaat, terlihat sepertinya memikirkan sesuatu.

“Kenapa Pak Romli?” tanyaku memecah lamunannya.

“Begini Mas Arkan, dari awal saya ingin berkata hal ini pada Mas Arkan. Sebenarnya dari awal para guru kurang setuju bahwa Rahmat mengikuti lomba tersebut, karena hal tersebut membawa nama daerah ini untuk berprestasi di tingkat kota. Murid teladan sebelumnya dari perwakilan daerah ini tidak pernah berprestasi menjuarai Murid Teladan SD tingkat Kota bahkan masuk babak dua belas besarpun tidak pernah. Maka dari itu banyak guru yang merasa pesimis bahwa anak yang baru masuk sekolah adalah yang terpilih. Tetapi melihat perkembangan Rahmat akhir-akhir ini, entah kenapa saya sangat yakin minimal Rahmat bisa masuk dalam dua belas besar siswa teladan di Kota ini. Dan semoga Rahmat bisa menjawab keraguan dari para guru.”

“Amin. Semoga saja Pak.” harapku.

Sumber:  http://aliwasi.wordpress.com

Menggenggam Dunia – (15) Cinta yang tak terbalas

Pikiranku menjadi penuh tebakan, ia akan menerimaku atau menolakku. Ratih menangis di hadapanku. Aku tak tahan melihatnya menangis, seakan hatiku terasa teriris-iris melihat tetesan demi tetesan air matanya.

“Ratih, kenapa?” tanyaku memecah kesunyian melihat tangisannya.

“Mas Arkan.” Tangisnya mengucap namaku.

“Maaf, aku telah lancang mengucapkan isi hatiku.”

Bu Tia, ibu kandung dari Ratih keluar dari rumah dan menghampiriku bersama Ratih, “Arkan? Kok berdiri di depan, ayo mampir ke rumah. Ratih, kok tidak diajak..”

Ucapan Ibu Tia terhenti, tampaknya ia baru menyadari bahwa anaknya menangis di hadapanku. Aku tidak tahu harus berkata apa padanya.

Ibu Tia khawatir, “Ratih? Kenapa kamu menangis? Arkan, kenapa Ratih..?”

“Maafkan saya, Bu. Saya telah membuat Ratih menangis. Saya bersalah.” Ungkap sesalku.

“Hah? Apa yang telah kamu perbuat dengan anak saya?” tanya Ibu Tia dengan khawatir.

Aku tersentak oleh pertanyaan Ibu Tia, aku tak percaya bahwa kejadiannya akan seperti ini, “Saya..”

“Tidak, Mah. Ratih menangis bukan karena Mas Arkan. Mas Arkan tidak salah, dia hanya..” belum selesai bicara, ia lari menangis memasuki rumahnya.

Sesaat Ratih memasuki rumah, keluar pria berumur sebaya denganku dengan wajah heran. Ratih tidak memiliki Kakak ataupun adik, dia anak tunggal di keluarganya.

Apa mungkin saudara Ratih?

“Ada apa dengan Ratih, Bu?” Tanya pria yang berpakaian rapi itu.

Bu?

“Oh ya, Mas. Tidak apa-apa.” Jawab Bu Tia, terlihat sekali raut mukanya yang menyembunyikan hal ini.

Pria itu mengangguk, dan masuk ke dalam rumah tanpa sepatah katapun.

“Arkan, Ibu mau bicara.” Ucap Bu Tia sembari mengajakku duduk di kursi teras rumah.

Aku diliputi rasa sedih dan penasaran, kenapa tingkah Ratih seperti itu? Dan siapa pria yang tadi itu?

“Yang tadi itu calon suami Ratih.” Ungkap Bu Tia mengejutkanku.

Calon suami?

Tak terbayangkan, hatiku dalam sekejap runtuh, bagai halilintar yang menyambarku tiba-tiba dan menghancurkan batin ini. Tangan dan mulutku bergetar, saking tidak percaya dengan yang diungkapkan ibu kandung Ratih, ibu yang kuharapkan sebagai mertuaku nanti. Air mata ini meleleh tak kuasa menahan rasa sakit hati yang baru kurasakan dalam hidup ini. Cintaku tidak terbalaskan, anganku hilang dalam sekejap. Aku merasa benci pada diriku sendiri. Aku yang sangat bodoh, tidak mengerti kondisi Ratih yang telah dipinang orang lain.

“Arkan, kamu kenapa?” Tanya Bu Tia menyadarkanku.

“Tidak apa-apa.”

“Tolong jawab yang jujur, kenapa Ratih menangis? Kalian bertengkar?”

“Tidak, Bu.”

“Lantas?”

“Aku mengucapkan hal yang tidak sepantasnya aku ucapkan.”

“Maksudmu?”
“Maaf, Bu. Lebih jelasnya tanyakan pada Ratih, saya pamit pulang.” Ucapku dengan tak hentinya meneteskan air mata.

Dengan segera aku beranjak pergi dari Bu Tia. Aku yakin Bu Tia sangat kecewa denganku. Bu Tia terus memanggil sampai aku menghilang di hadapannya, tetapi tak kuhiraukan.

           Aku memang manusia bodoh.

Sumber: http://aliwasi.wordpress.com




Menggenggam Dunia – (14) Maukah menikah denganku?

Hari demi hari kondisi Rahmat membaik dan suhu tubuhnya menurun. Kondisi Rahmat yang demikian berpeluang untuk mengikuti lomba siswa teladan tingkat Kota.

Dengan kondisi Rahmat yang sedang sakit, hubunganku dengan Ratih semakin dekat. Ratih setiap waktu selalu mengunjungi rumahku, selain menjenguk Rahmat, aku dan Ratih banyak berbincang-bincang.

Sempat iseng kubertanya pada Ratih mengenai tipe pria pendamping hidupnya. Ternyata sebagian besar aku telah memenuhi kriteria yang Ratih inginkan, kecuali satu hal yang tidak sesuai dengan diriku. Dia menginginkan orang yang sederhana dan membenci orang yang bermewah-mewahan.

Terkadang saat bekerja sebagai dokter di kota, aku masih mempunyai sifat bermewah-mewahan. Hidup di desa dengan kesederhanaan hanya sebagai selingan hidup, karena bosan dengan kemewahan. Tetapi hidup di desa ini sesungguhnya mahal, karena banyak sekali pelajaran yang kupetik dari kehidupan yang sederhana ini.

“Kak, besok Mamet sekolah ya?” pinta Rahmat

“Ya Mat, lagipula kondisimu sudah membaik. Di sekolah jangan terlalu memaksakan berpikir dan banyak istirahat ya.”

Terlihat secercah kebahagiaan pada wajah Rahmat. Aku senang melihat ia senang, berkumpul bersama teman sebaya memang membahagiakannya.

Aku teringat Ratih, perilakunya seakan memberi harapan bahwa ia akan menerimaku.

Aku sangat yakin sekali, bahwa bersamanya akan terasa bahagia. Wajahnya menentramkan hati, perilakunya meluluhkan jantungku.

“Kak Arkan?” sapa Rahmat mengagetkanku.

“Ada apa, Kak? Kok melamun?”

“Hem, tidak ada.” Singkatku.

Akhir-akhir ini aku merasa aneh, mungkin tanpa kusadari aku sering melamun. Ratih, dialah yang aku bayangkan.

Bagaimana pendapat Mamet mengenai Ratih? Lebih baik aku tanyakan, mungkin aku semakin yakin setelah mendengar ucapannya.

“Met, menurutmu Ratih bagaimana?” tanyaku.

“Bagaimana apanya?”

“Ya, apa-apanya.”

“Sifatnya?”

“Ya.”

“Baik.”

“Lalu?”

“Ramah sekali.”

“Lalu?”

“Pengertian.”

“Lalu?”

“Sopan.”

“Lalu?”

“Lintas.”

“Lintas?”

“Kak kak. Kak Arkan suka sekali sama Mba Ratih ya?”

Aku merasa malu untuk menjawab pertanyaan Rahmat, lebih baik sembunyikan saja.

“Biasa saja.”
 
“Jujur ya, Kak? Kak Arkan sama Mba Ratih cocok. Mamet setuju kalau..”

“Kalau?”

“Kalau Kak Arkan mau jujur sama Mba Ratih. Hehehe” ledek Rahmat dengan tawanya.

Rahmat sepertinya paham dengan perasaanku pada Ratih. Aku tidak bisa berbohong lagi.

“Kalau Mamet dukung Kakak, oke deh. Apa boleh buat. Sebenarnya Kakak juga suka dari pertamakali bertemu Ratih, tapi apa perasaan dia juga sama seperti Kakak?” ucapku agak malu.

“Nah gitu donk, jujur sama Mamet. Kecil-kecil, Mamet ngerti perasaan orang dewasa. Hahahah. Menurut Mamet, Mba Ratih suka sama Kak Arkan.”

Aku mengelus keras rambut Rahmat, “Wuah, bocah. Pokoknya doakan Kakakmu ini ya? Kakak nanti usahakan jujur sama Ratih.”

“Yo’i, Kak.” Ucap Rahmat dengan mengacungkan jempol untukku.

***

Tekadku sudah bulat, tekad ini harus kuutarakan pada Ratih. Dialah wanita pertama yang telah membuatku jatuh cinta.

Aku mempersiapkan semua, mulai dari baju yang kupakai, parfum, rambut yang rapih, dengan harapan bahwa orangtua Ratih mungkin merasa senang dengan penampilanku.

Baju yang kupakai yaitu kemeja coklat bergaris hingga pergelangan tangan dengan celana panjang berwarna hitam. Saat aku berkaca pada cermin di rumah, tak kusangka alangkah tampannya bayangan di balik cermin itu. Aku semakin pede untuk melamar Ratih dengan kondisiku ini.

“Kakak ganteng deh, semoga sukses ya Kak.” Ucap Rahmat tepat di belakangku.

“Makasih ya adik imut.”

Semua sudah selesai, tinggal keluar dan menuju rumah Ratih. Perasaanku semakin tercampur baur antara bahagia, cemas, dan rasa penasaran akan diterima atau tidaknya.

Aku berjalan menuju depan pintu rumah sendiri, rasanya begitu lama. Perasaan harap-harap cemas terus menjalar pada tubuhku ini.

Langkah demi langkah kuberjalan, tak seperti biasanya suara langkah ini terdengar olehku.

Akhirnya aku sampai depan pintu rumah. Perlahan kubuka pintu tersebut, seakan membuka pintu kebahagiaan atau bisa pula membuka pintu kesedihan. Rasa optimis langsung menyeruak dalam batinku, ketika angin tenang yang lembut menyibak tubuhku.

Semangat Arkan, ini hari bersejarah untukmu.

Rumah Ratih tidak jauh dari tempat aku tinggal, kira-kira sepuluh meter disamping rumahku. Tak peduli dengan suara sekitar bahkan kondisi jalan apapun, perhatian mataku tertuju pada rumah Ratih yang sudah di depan mata.

Sampai di depan rumahnya, terlihat pintu depan yang terbuka. Nyaliku seakan kropos, aku tak berani melangkah ke depan, aku tidak berani mengetuk pintu. Dengan sendiri bibirku bergetar, lidahku kaku. Pertanda apa ini, apa mungkin karena aku belum berpengalaman mengenai jatuh cinta? Apa ini karena aku masih pengecut untuk mengungkapkan cinta yang pertama kali dalam sejarah hidupku.

            Cukup! Apa yang harus kuperbuat?

            “Mas Arkan?” sapa Ratih keluar dari pintu rumah dengan sedikit terkejut.

Tak seperti biasanya ia terlihat sedih seperti menahan tangis. Mungkin hanya perasaanku saja. Ratih. Ratih. Ratih. Ya, hatiku lunak jika ada di hadapannya. Semenjak awal tekadku sudah bulat, aku harus ungkapkan itu.

“Ratih, aku, aku ingin mengatakan isi hatiku.” Ucapku gugup dihadapannya.

“Mas.” Balas ia meneteskan air mata.

“Kamu jangan menangis, aku hanya..”

“Mas, aku juga.” Ratih menangis mengucapkannya.

Apa maksudnya ‘aku juga?’ Apa dia mencintaiku juga? Baiklah ini saatnya kuungkapkan.

“Semenjak pertama kali aku bertemu denganmu, entah apa yang kurasakan. Kau adalah wanita pertama yang telah membuatku jatuh cinta. Semenjak mengenalmu, aku semakin yakin bahwa kau pantas untuk mendampingi hidupku. Aku sangat mencintaimu dan menyayangimu.” Ucapku dengan suara bergetar.

“Mas.”

“Ratih, maukah menikah denganku?”

Sumber:  http://aliwasi.wordpress.com





Dialog Malaikat dan Pengusaha

Kisahnya.
Ada seorang pengusaha sukses terjatuh di kamar mandi dan akhirnya stroke, sudah 7 malam dirawat di RS di ruang ICU. Di saat orang-orang terlelap dalam mimpi malam, dalam dunia roh seorang Malaikat menghampiri si pengusaha yang terbaring tak berdaya. Malaikat memulai pembicaraan,

"Kalau dalam waktu 24 jam ada 50 orang berdoa buat kesembuhanmu, maka kau akan hidup dan sebaliknya jika dalam 24 jam jumlah yang aku tetapkan belum terpenuhi, itu artinya kau akan meninggal dunia."
"Kalau hanya mencari 50 orang, itu mah gampang ..." kata si pengusaha ini dengan yakinnya.

Setelah itu Malaikat pun pergi dan berjanji akan datang 1 jam sebelum batas waktu yang sudah disepakati.
Tepat pukul 23:00, Malaikat kembali mengunjunginya, dengan antusiasnya si pengusaha bertanya, "Apakah besok pagi aku sudah pulih? Pastilah banyak yang berdoa buat aku, jumlah karyawan yang aku punya lebih dari 2000 orang, jadi kalau hanya mencari 50 orang yang berdoa pasti bukan persoalan yang sulit."

Dengan lembut si Malaikat berkata,
"aku sudah berkeliling mencari suara hati yang berdoa buatmu tapi sampai saat ini baru 3 orang yang berdoa buatmu, sementara waktumu tinggal 60 menit lagi, rasanya mustahil kalau dalam waktu dekat ini ada 50 orang yang berdoa buat kesembuhanmu."

Tanpa menunggu reaksi dari si pengusaha, si Malaikat menunjukkan layar besar berupa TV siapa 3 orang yang berdoa buat kesembuhannya. Di layar itu terlihat wajah duka dari sang istri, di sebelahnya ada 2 orang anak kecil, putra-putrinya yang berdoa dengan khusuk dan tampak ada tetesan air mata di pipi mereka.

Malaikat berkata,
"Aku akan memberitahukanmu, kenapa Tuhan rindu memberikanmu kesempatan kedua, itu karena doa istrimu yang tidak putus-putus berharap akan kesembuhanmu."

Istri Pengusaha Berdoa.
Kembali terlihat di mana si istri sedang berdoa jam 2:00 dini hari,
"Tuhan, aku tahu kalau selama hidupnya suamiku bukanlah suami atau ayah yang baik. Aku tahu dia sudah mengkhianati pernikahan kami, aku tahu dia tidak jujur dalam bisnisnya, dan kalaupun dia memberikan sumbangan, itu hanya untuk popularitas saja untuk menutupi perbuatannya yang tidak benar di hadapanMu. Tapi Tuhan, tolong pandang anak-anak yang telah Engkau titipkan pada kami, mereka masih membutuhkan seorang ayah dan hamba tidak mampu membesarkan mereka seorang diri."

Dan setelah itu istrinya berhenti berkata-kata tapi air matanya semakin deras mengalir di pipinya yang kelihatan tirus karena kurang istirahat.
Melihat peristiwa itu, tanpa terasa, air mata mengalir di pipi pengusaha ini . . . timbul penyesalan bahwa selama ini dia bukanlah suami yang baik dan ayah yang menjadi contoh bagi anak-anaknya, dan malam ini dia baru menyadari betapa besar cinta istri dan anak-anak padanya.

Waktu terus bergulir, waktu yang dia miliki hanya 10 menit lagi, melihat waktu yang makin sempit semakin menangislah si pengusaha ini, penyesalan yang luar biasa tapi waktunya sudah terlambat. Tidak mungkin dalam waktu 10 menit ada yang berdoa 47 orang.

Dengan setengah bergumam dia bertanya,
"Apakah di antara karyawanku, kerabatku, teman bisnisku, teman organisasiku tidak ada yang berdoa buatku?"

Jawab si Malaikat,
"Ada beberapa yang berdoa buatmu tapi mereka tidak tulus, bahkan ada yang mensyukuri penyakit yang kau derita saat ini, itu semua karena selama ini kamu arogan, egois dan bukanlah atasan yang baik, bahkan kau tega memecat karyawan yang tidak bersalah."

Si pengusaha tertunduk lemah, dan pasrah kalau malam ini adalah malam yang terakhir buat dia, tapi dia minta waktu sesaat untuk melihat anak dan si istri yang setia menjaganya sepanjang malam.

Air matanya tambah deras, ketika melihat anaknya yang sulung tertidur di kursi rumah sakit dan si istri yang kelihatan lelah juga tertidur di kursi sambil memangku si bungsu.

Ketika waktu menunjukkan pukul 24:00, tiba-tiba si Malaikat berkata,
"Tuhan melihat air matamu dan penyesalanmu. Kau tidak jadi meninggal, karena ada 47 orang yang berdoa buatmu tepat jam 24:00."

Dengan terheran-heran dan tidak percaya,si pengusaha bertanya siapakah yang 47 orang itu. Sambil tersenyum si Malaikat menunjukkan suatu tempat yang pernah dia kunjungi bulan lalu.

"Bukankah itu Panti Asuhan?" kata si pengusaha pelan.
"Benar, kau pernah memberi bantuan bagi mereka beberapa bulan yang lalu, walau aku tahu tujuanmu saat itu hanya untuk mencari popularitas saja dan untuk menarik perhatian pemerintah dan investor luar negeri."

"Tadi pagi, salah seorang anak panti asuhan tersebut membaca di koran kalau seorang pengusaha terkena stroke dan sudah 7 hari di ICU, setelah melihat gambar di koran dan yakin kalau pria yang sedang koma adalah kamu, pria yang pernah menolong mereka dan akhirnya anak-anak panti asuhan sepakat berdoa buat kesembuhanmu."

Sahabatku, cerita ini hanyalah sebuah gambaran agar kita lebih instropeksi diri. Saya membayangkan ketika diri saya mati nanti, apakah orang disekeliling saya akan kehilangan, atau sebaliknya mereka mengabaikan atas kematian saya, atau yang paling parah apakah mereka bersyukur malah?

Mari sahabatku, mumpung kita masih diberi umur, lakukanlah yang terbaik untuk orang-orang di sekitar kita, kaena sebaik-baik manusia adalah yang bermanfaat bagi manusia yang lainnya.

Dan satu lagi, janganlah kita meremehkan sedekah, sesuai cerita diatas, justru sedekahnya yang menyelamatkan pengusaha tersebut.

Akhirnya, admin mengucapkan selamat menyambut tahun baru 2013, isilah malam tahun baru ini dengan kebaikan sahabatku.

Semoga bermanfaat.

Sumber: http://kisahislamiah.blogspot.com

Minggu, 16 Juni 2013

Cerita Lucu | Anak Muda dan Sholat Tahajud

BERKAH SHOLAT TAHAJJUD
Tersebutlah seorang pemuda yang putus sekolah, sehingga ia kesulitan untuk mencari pekerjaan. Untuk mencukupi kebutuhannya, ia beragang asongan di terminal. Semakin hari jumlah pedagang asongan kian bertambah, hal ini tentu saja menurukan pendapatan baginya. Ia pun resah dan gelisah, menunggu di sini, di sudut terminal, eh ga ding. Kok malah nyanyi kisah kasih di terminal eh di sekolah :D

Pemuda pun resah, bingung, stress. Ingin sekali rasanya ia berteriak kepada langit tua langit tak mendengar. Ia bertanya pada langit tua, tak ada jawabnya...ooo... hayah... malah nyanyi lagi... :p

Setelah merenung cukup lama, sang pemuda pun dapat ide. Ia bermaksud sowan (menghadap) ke Kiyai Udin guna meminta dido'akan agar berkah. Namamya Kiyai, pasti punya banyak solusi untuk ummatnya.

Sore itu ba'da ashar, ia pun menemui Kiyai Udin di kediamannya.

Pemuda : "Assalaamu'alaykum, Kiyai. Maksud kedatangan saya kemari bermaksud untuk minta keberkahan do'anya supaya saya bisa mendapat rizki yang tidak disangka-sangka arah datangnya. Akhir-akhir ini dagangan saya sepi."

Kiyai Udin : "Wa'alaykum salam, oh itu. Gini aja Mas, sampean (kamu : Jawa) nanti malam sholat saja tahajud yah sekitar jam 2 lah. Nah, mintalah apapun yang ingin anda minta. Insya Allah, berkat tahajud dan berdo'a disepertiga malam terakhir lebih diengar Allah dan makbul. Syukur-syukur bisa istiqamah dilakukan tiap hari."

Pemuda : "Aamiin... Alhamdulillah, Kiyai. Terima kasih, kalau begitu saya pamit dulu, Assalaamu'alaykum."

Kiyai Udin : "Ya, hati-hati. Wa'alaykum salam."

Dua hari kemudian, ketika pemuda bertemu dengan Kiyai Udin.

Pemuda : "Assalamu'alaykum Kiyai.".

Kiyai Udin : "Wa'alaykum salam, eh Anda. Bagaimana kabarnya Mas?"

Pemuda : "Alhamdulillah baik, Kiyai. Oh ya, Kiyai. Saya mau mengucapkan banyak terima kasih atas saran njenengan waktu itu. Alhamdulillah, berkah tahajud saya benar-benar mendapatkan rizki yang tidak disangka-sangka. Sekali lagi terima kasih Kiyai."

Kiyai Udin : "Oh ya, alhamdulillah kalau begitu saya turut senang. Kalau boleh tahu rizki apa? Apakah dagangan Anda makin rame atau dapat bisnis baru?"

Pemuda : "Oh bukan kiyai, dagangan saya masih tetap sepi. Tapi sekali lagi terima kasih, berkah sholat tahajjud saya benar-benar dapat rizki yang tak disangka-sangka."

'

'

'

PASANG TOGEL NEMBUS 4 NOMOR, Kiyai..?"

Kiyai Udin : pingsan %^*&^%$##%^&*

  
Makna dari cerita diatas yang bisa jadi pelajaran bagi kita adalah . . .

- Betapa halus tipu daya syetan, meskipun dengan perantara ibadah, ia tetap mampu menyesatkan ummat manusia. Jadi, berhati hatilah Anda dalam beribadah. Luruskan niat karena Allah ta'ala. Ingat..!!! Syetan musuh yang nyata, ia selalu bermain dihati manusia.

- Sudah banyak yang membuktikan bahwa dengan berkah shalat tahajjud mampu membuat sukses suatu bisnis atau pun usaha seseorang, jika mereka mau mendawamkan melakukannya. Oleh karena itu, mari kita sama sama mendawamkan sholat tahajjud sebagai ibadah tambahan bagi kita 

"Dan pada sebahagian malam hari bersembahyang tahajudlah kamu sebagai suatu ibadah tambahan bagimu; mudah-mudahan Tuhan-mu mengangkat kamu ke tempat yang terpuji." (QS. Al-Israa': 79).

Sumber: http://sebagininfo.blogspot.com







Kamis, 13 Juni 2013

Kisah Malaikat Pencatat Amal

Setiap manusia dijaga oleh malaikat pencatat amal yang berada di sebelah kanan dan kirinya.

Kisahnya.
Diterangkan dalam sebuah hadits bahwa manusia dijaga oleh malaikat, salah satunya berada di sebelah kanan sebagai pencatat amal kebaikan tanpa kesaksian yang lain, dan yang satunya lagi berada di sebelah kiri sebagai pencatat amal yang jelek, dan dia tidak akan mencatat amal jelek tanpa kesaksian di sebelah kanannya.
Jika manusia duduk, satu malaikat berada di sebelah kanannya dan malaikat lainnya di sebelah kirinya.
Sedangkan jika manusia berjalan, maka satu malaikat berada di belakangnya dan malaikat yang lain berada di depannya, dan jika manusia tidur, malaikat yang satu berada di dekat kepalanya dan yang lain berada di dekat kirinya.


Kesaksian Malaikat.
Dalam riwayat yang lain dijelaskan, ada 5 malaikat yang menyertai manusia, yaitu:

  • Dua malaikat menjaga pada malam hari.
  • Dua malaikat menjaga pada siang hari.
  • Dan satu malaikat yang tidak pernah berpisah dengannya.
Hal tersebut sesuai dengan firman ALlah SWT,


"Bagi manusia ada malaikat-malaikat yang selalu mengikutinya bergiliran, di muka dan di belakangnya, mereka menjaganya atas perintah Allah. Sesungguhnya Allah tidak merobah Keadaan sesuatu kaum sehingga mereka merobah keadaan yang ada pada diri mereka sendiri. dan apabila Allah menghendaki keburukan terhadap sesuatu kaum, Maka tak ada yang dapat menolaknya; dan sekali-kali tak ada pelindung bagi mereka selain Dia."
(QS. Ar-Ra'd: 11).

Bagi tiap-tiap manusia ada beberapa Malaikat yang tetap menjaganya secara bergiliran dan ada pula beberapa Malaikat yang mencatat amalan-amalannya. dan yang dikehendaki dalam ayat ini ialah Malaikat yang menjaga secara bergiliran itu, disebut Malaikat Hafazhah.
Tuhan tidak akan merobah Keadaan mereka, selama mereka tidak merobah sebab-sebab kemunduran mereka.

Yang dimaksud malaikat yang bergantian yaitu malaikat malam dan siang yang melindunginya dari jin, setan dan manusia.
Kedua ma;laikat menulis amal kebaikan dan kejelekan diantara kedua bahunya. Lidahnya sebagai pena, mulutnya sebagai tempat tinta, keduanya menulis amal manusia sampai datang hari kematiannya.

Rasulullah SAW bersabda,
"Sesungguhnya malaikat di sebelah kanan itu lebih dapat dipercaya daripada malaikat di sebelah kiri. Maka jika manusia beramal jelek dan malaikat di sebelah kiri akan menulisnya, maka malaikat di sebelah kananya berkata kepadanya,
"Tunggu dulu, tunggulah selama 7 jam, jika dia beristighfar kepada Allah jangan kau tulis dan jika dia tidak beristighfar maka tulislah satu kejelekan."

Maka ketika dicabut nyawa manusia dan diletakkan dalam kuburnya, kedua malaikat berkata,
"Wahai Tuhanku, Engkau telah menyerahkan kepada kami hamba-Mu untuk menulis amalnya dan sungguh Engkau telah mencabut ruhnya, maka ijinkanlah kami naik ke langit."

Maka ALlah SWT berfirman,
"Langit telah dipenuhi dengan malaikat yang membaca tasbih, maka kembalilah kalian berdua dan bertasbihlah kepada-Ku, bacalah takbir dan tahlil, dan tulislah bacaan-bacaan itu untuk hamba-Ku sampai dia dibangunkan dari kuburnya."

Kiraman Katibin.
Allah SWT berfirman tentang malaikat Kiraman Katibin,
"Aku menanamkan mereka Kiraman Katibin karena ketika menulis amal kebaikan mereka naik ke langit dan memperlihatkannya kepada Allah dan mereka bersaksi atas hal tersebut dengan berkata,
"Sesungguhnya hamba-Mu si Fulan berbuat sesuatu kebaikan demikian dan demikian."

Dan ketika menulis atas seorang hamba amal kejelekan, mereka naik dan memperlihatkannya kepada Allah dengan rasa susah dan gelisah.
Maka Allah SWT berfirman kepada malaikat Kiraman Katibin,
"Apa yang diperbuat hamba-Ku?"
Mereka diam hingga Allah berfirman untuk yang kedua dan ketiga kalinya, lalu mereka berkata,
"Ya Tuhanku, Engkau Dzat yang mengetahui aib dan Engkau memerintahkan hamba-hamba-Mu agar menutupi aib-aib mereka. Sesungguhnya setiap hari mereka membaca kitab-Mu dan mereka mengharap kami menutupi aibnya."

Lalu malaikat Kiraman Katibin mengatakan yang mereka ketahui tentang apa yang diperbuat seorang hamba.
Allah SWT berfiman,
"Maka sesungguhnya kami menutupi aib-aib mereka dan Engkaulah Dzat Yang Maha Mengetahui aib-aib."

Karena inilah mereka dinamakan Kiraman Katiban (yang mulia di siai Allah) dan yang mencatat amal perbuatan.


Sumber: http://kisahislamiah.blogspot.com