Kisah Islami
1. SEBUTIR KORMA PENJEGAL DO’A
Usai menunaikan ibadah haji, Ibrahim bin Adham berniat ziarah ke
mesjidil Aqsa. Untuk bekal di perjalanan, ia membeli 1 kg kurma dari
pedagang tua di dekat mesjidil Haram. Setelah kurma ditimbang dan
dibungkus, Ibrahim melihat sebutir kurma tergeletak didekat timbangan.
Menyangka kurma itu bagian dari yang ia beli, Ibrahim memungut dan
memakannya. Setelah itu ia langsung berangkat menuju Al Aqsa. 4 Bulan
kemudian, Ibrahim tiba di Al Aqsa.
Seperti biasa, ia suka memilih sebuah
tempat beribadah pada sebuah ruangan dibawah kubah Sakhra. Ia shalat dan berdoa
khusuk sekali. Tiba tiba ia mendengar percakapan dua Malaikat tentang
dirinya. “Itu, Ibrahim bin Adham, ahli ibadah yang zuhud dan wara yang
doanya selalu dikabulkan ALLAH SWT,” kata malaikat yang satu. “Tetapi
sekarang tidak lagi. doanya ditolak karena 4 bulan yg lalu ia memakan
sebutir kurma yang jatuh dari meja seorang pedagang tua di dekat
mesjidil haram,” jawab malaikat yang satu lagi.
Ibrahim bin adham terkejut sekali, ia terhenyak, jadi selama 4 bulan
ini ibadahnya, shalatnya, doanya dan mungkin amalan-amalan lainnya tidak
diterima oleh ALLAH SWT garagara memakan sebutir kurma yang bukan
haknya. “Astaghfirullahal adzhim” ibrahim beristighfar. Ia langsung
berkemas untuk berangkat lagi ke Mekkah menemui pedagang tua penjual
kurma. Untuk meminta dihalalkan sebutir kurma yang telah ditelannya.
Begitu sampai di Mekkah ia langsung menuju tempat penjual kurma itu,
tetapi ia tidak
menemukan pedagang tua itu melainkan seorang anak muda. “4 bulan yang
lalu saya membeli kurma disini dari seorang pedagang tua. kemana ia
sekarang ?” tanya ibrahim. “Sudah meninggal sebulan yang lalu, saya
sekarang meneruskan pekerjaannya berdagang kurma” jawab anak muda itu.
“Innalillahi wa innailaihi roji’un, kalau begitu kepada siapa saya
meminta penghalalan ?”
Lantas ibrahim menceritakan peristiwa yg dialaminya, anak muda itu
mendengarkan penuh minat. “Nah, begitulah” kata ibrahim setelah
bercerita, “Engkau sebagai ahli waris orangtua itu, maukah engkau
menghalalkan sebutir kurma milik ayahmu yang terlanjur ku makan tanpa
izinnya?”.
“Bagi saya tidak masalah. Insya ALLAH saya halalkan. Tapi entah dengan
saudara-saudara saya yang jumlahnya 11 orang. Saya tidak berani mengatas
nama kan mereka karena mereka mempunyai hak waris sama dengan saya.”
“Dimana alamat saudara-saudaramu ? biar saya temui mereka satu persatu.”
Setelah menerima alamat, ibrahim bin adham pergi menemui. Biar
berjauhan, akhirnya selesai juga. Semua setuju menghalakan sebutir kurma
milik ayah mereka yang termakan oleh ibrahim. 4 bulan kemudian,
Ibrahim bin adham sudah berada dibawah kubah Sakhra. Tiba tiba ia
mendengar dua malaikat yang dulu terdengar lagi bercakap cakap. “Itulah
Ibrahim bin Adham yang doanya tertolak gara gara makan sebutir kurma
milik orang lain.”
“O, tidak.., sekarang doanya sudah makbul lagi, ia telah mendapat
penghalalan dari ahli waris pemilik kurma itu. Diri dan jiwa Ibrahim
kini telah bersih kembali dari kotoran sebutir kurma yang haram karena
masih milik orang lain. Sekarang ia sudah bebas.” “Oleh sebab itu
berhati-hatilah dgn makanan yg masuk ke tubuh kita, sudah halal-kah?
lebih baik tinggalkan bila ragu-ragu…
2. SALMAN AL-FARIS R.A
Salman Al-Farisi r.a. lahir di suatu desa bernama Jiyan di wilayah kota Aspahan – Iran, yaitu
antara kota Teheran dengan Syiraz. Setelah Salman r.a. mendengar
kebangkitan Rasulullah saw. dia langsung berangkat meninggalkan Persia
mencari Nabi saw. untuk menyatakan keislamannya.
Dalam suatu kisah, Salman menceritakan otobiografinya sbb. ‘Saya adalah
anak muda Persia yang berasal dari suatu desa di kota Aspahan yang
bernama Jiyan. Ayah saya adalah kepala desa dan orang terkaya serta
terhormat di desa itu. Dari sejak lahir, saya adalah orang yang paling
disayanginya, kasih sayangnya kepada saya semakin hari semakin kental,
sehingga saya di kurung di rumah bagaikan gadis pingitan. Saya termasuk
orang yang takwa dalam agama majusi, sehingga saya merasakan nilai api
yang kami sembah itu dan saya diberi tanggungjawab menyalakannya, jangan
sampai padam sepanjang hari dan sepanjang malam.
Ayah saya mempunyai ladang yang luas yang memberi kami penghidupan yang
cukup. Ayah saya selalu mengurusi dan memanennya sendiri. Di suatu
hari, dia tidak bisa pergi ke ladang, lalu dia mengatakan kepada saya,
‘Anakku! Ayah sibuk dan tidak bisa pergi ke ladang hari ini, sebab itu
pergilah urusi ladang tersebut menggantikan Ayah.’ Lalu saya berangkat
menuju ladang kami.
Di tengah perjalanan, saya melewati sebuah gereja Kristen dan
mendengar suara mereka yang sedang beribadah di dalam. Hal itu menarik
perhatian saya karena saya tidak pernah tahu sedikitpun tentang agama
Kristen dan agama lainnya, karena sepanjang usia saya selalu dipingit di dalam rumah oleh orang tua saya.
Setelah mendengar suara
itu, saya masuk ingin mengetahui secara dekat apa yang sedang mereka
lakukan. Setelah saya memperhatiakan apa yang mereka kerjakan, saya
merasa tertarik dengan cara mereka beribadah, malah saya tertarik dengan
agama mereka. Saya mengatakan dalam hati saya, ‘Sungguh agama mereka
ini lebih baik dari agama kami.’
Saya tidak keluar dari gereja tersebut sampai matahari terbenam
sehingga saya tidak jadi pergi ke ladang kami. Saya menayakan kepada
mereka, ‘Dari mana asal agama ini?’ Mereka menjawab, ‘Dari daerah Syam.’
Setelah malam menjelang, saya pulang ke rumah. Ayah saya langsung
menanyakan kepada saya apa yang telah saya lakukan. Saya menjawab, ‘Hai
Ayahku! Saya melewati sekelompok orang yang sedang beribadah di dalam
gereja, lalu saya tertarik dengan cara mereka beribadah.
Saya berada bersama mereka sampai matahari terbenam.’ Ayah saya
langsung marah mendengar tindakan saya dan dia mengatakan, ‘Hai anakku!
Agama mereka itu tidak baik, agamamu dan agama nenek moyangmu lebih baik
dari agama itu.’ Saya menjawab, ‘Tidak ayah! Agama mereka lebih baik
dari agama kita.’ Dari perkataan saya itu, syah saya takut kalau-kalau
saya akan murtad, lalu dia mengurung saya di rumah dengan mengekang kaki
saya.’
Berangkat ke negeri Syam:
Ketika saya mendapat kesempatan, saya mengirim pesan kepada kaum Kristen
itu. Saya mengatakan,’Bila ada rombongan yang akan berangkat ke negeri
Syam, tolong saya diberi tahu.’ Ternyata tidak berapa lama ada satu
rombongan yang akan berangkat ke negeri Syam. Mereka pun langsung
memberitahukannya kepada saya. Saya berusaha membuka kekang kaki saya
dan saya berhasil membukanya. Saya berangkat bersama mereka secara
sembunyi dan akhirnya kami sampai di negeri Syam. Setibanya di negeri
Syam, saya mengatakan, ‘Siapa orang nomor satu dalam agama ini?’ Mereka
menjawab, ‘Uskup pengasuh gereja.’ Saya mendatanginya dan mengatakan
kepadanya, ‘Saya tertarik dengan agama Kristen ini dan saya ingin
mengikuti dan membantumu sekaligus belajar dari kamu dan beribadah
bersama kamu.’ Dia menjawab, ‘Silakan masuk!’ Saya pun masuk dan menjadi
pembantunya.
Belum berlangsung lama, saya menilai bahwa orang tersebut adalah orang
jahat, dia menyuruh pengikutnya untuk berderma dan mengiming-imingi
mereka dengan pahala yang sangat besar. Setelah mereka memberikannya
dengan niat fi sabilillah, ternyata dia monopoli untuk dirinya sendiri,
tidak diberikan kepada fakir miskin sedikitpun. Dia berhasil
mengumpulkan sebanyak tujuh karung emas. Melihat keadaan itu, saya
menaruh kebencian yang luar biasa terhadapnya. Ketika dia meninggal,
kaum Kristen berkumpul untuk menguburkannya, ketika itu saya mengatakan
kepada mereka, ‘Sesungguhnya teman kamu ini adalah orang jahat, dia
menyuruh kamu bersedekah dan mengiming-imingkan pahala besar, setelah
kalian kumpulkan, dia monopoli untuk dirinya sendiri, dia tidak berikan
sedikitpun kepada fakir miskin.’ Mereka menjawab, ‘Dari mana kamu tahu?’
Saya menjawab, ‘Mari saya tunjukkan kepada kamu sekarang juga tempat
penyimpanan harta itu’ Mereka mengatakan, ‘Ayo tunjukkan kepada kami
tempatnya.’
Saya pun menunjukkannya dan mereka menemukan tujuh karung emas dan
perak. Setelah mereka melihat secara langsung, mereka mengatakan, ‘Demi
Allah kita tidak akan menguburkannya, kita harus menyalib dan
melemparinya dengan batu.’ Tidak lama kemudian mereka mengangkat orang
lain sebagai penggantinya, lalu saya mengikutinya. Sungguh saya belum
pernah mendapatkan orang yang paling zuhud dan mengharap akhirat
melebihi orang itu. Ibadahnya yang berlangsung siang malam membuat saya
menyenanginya, lalu saya hidup bersama dia beberapa tahun. Ketika
menjelang wafatnya, saya mengatakan kepadanya, ‘Ya Polan! Kepada siapa
engkau pesankan saya dan dengan siapa saya akan hidup sepeninggal kamu?’
Dia menjawab, ‘Ya anakku! Terus terang saya tidak melihat ada orang
yang tingkat keagamaannya seperti kita, kecuali satu orang di kota Musol
yang bernama Polan. Dia tidak merubah-rubah dan mengganti-ganti ayat
Allah. Oleh sebab itu carilah orang itu.’ Sepeninggal teman saya itu,
saya pergi menyusul orang tersebut ke kota Musol.
Setibanya di rumah beliau saya menceritakan kisah saya dan mengatakan
kepadanya, ‘Ketika si Polan hendak meninggal dunia dia memesankan kepada
saya untuk menyusul kamu, dia memberitahukan kepada saya bahwa kamu
berpegang kuat dengan kebenaran. Dia mengatakan kepada saya, kalau
begitu, tinggallah bersama saya. Saya pun tinggal bersama beliau, dan
memang betul dia adalah orang baik. Tidak lama kemudian, diapun menemui
ajalnya. Ketika hendak meninggal saya bertanya kepadanya, ‘Ya Polan!
Janji Tuhan sudah dekat kepada Anda, Anda tahu kondisi saya sebenarnya,
oleh sebab itu kepada siapa Anda memesankan saya dan siapa yang harus
saya ikuti?’ Dia menjawab, ‘Hai anakku! Terus terang saya tidak melihat
ada orang yang tingkat keagamaannya seperti kita kecuali seorang di
Nasibin yang bernama Polan, susullah dia kesana’ Setelah orang itu
bersemayam di liang lahad, saya berangkat ke Nasibin mencari orang yang
disebutkan itu. Saya menceritakan kepadanya kisah saya dan pesan teman
saya sebelumnya. Dia mengatakan, ‘Tinggallah bersama saya.’ Saya pun
tinggal bersama dia dan ternyata memang dia adalah orang baik seperti
dua orang teman saya sebelumnya. Akan tetapi tidak lama kemudian dia pun
menemui ajalnya. Ketika menjelang maut, saya bertanya kepadanya,
‘Engkau telah mengetahui kondisi saya sebenarnya. Oleh sebab itu kepada
siapa engkau memesankan saya?’
Dia menjawab, ‘Ya anakku! Terus terang saya tidak menemukan ada orang
yang tingkat keagamaannya seperti kita kecuali seorang di kota Amuriah
yang bernama Polan, carilah orang itu.’ Saya pun mencarinya dan saya
menceritakan kisah saya kepadanya. Dia menjawab, ‘Tinggallah bersama
saya.’ Saya pun tinggal bersama dia. Ternyata memang dia orang baik
seperti yang dikatakan orang sebelumnya. Selama saya tinggal bersama dia
saya berhasil mendapatkan beberapa ekor sapi dan harta kekayaan
lainnya.
Kemudian orang tersebut pun menemui ajalnya seperti yang sebelumnya.
Ketika menjelang kematiannya, saya mengatakan kepadanya, ‘Anda
mengetahui kondisi saya sebenarnya, oleh sebab itu kepada siapa engkau
akan pesankan saya atau apa pesan Anda untuk saya lakukan?’ Dia
menjawab, ‘Hai anakku! Terus terang saya tidak menemukan seorang-pun di
muka bumi ini yang masih berpegang dengan agama kita, namun waktunya
sudah tiba, seorang nabi yang akan membawa agama Nabi Ibrahim akan
muncul di tanah Arab, dia akan hijrah dari tanah tumpah darahnya ke
daerah yang penuh dengan pohon kurma di antara dua gunung, dia mempunyai
tanda kenabian yang sangat jelas, dia mau memakan hadiah tapi tidak mau
memakan sedekah, di antara bahunya terdapat cap kenabian. Jika Anda
bisa menyusul ke negeri itu, silakan.’ Tidak lama kemudian dia pun
meninggal dunia, saya pun tinggal di kota Amuriah untuk beberapa waktu.
Datang ke jazirah Arabia:
Ketika rombongan pedagang dari Suku Kalb -Arab- lintas di Amuriah, saya
berkata kepada mereka, ‘Jika kalian sanggup membawa saya ke tanah Arab,
saya berikan kepada kalian sapi dan harta kekayaan saya ini.’ Mereka
menjawab, ‘Ya, kami sanggup membawa kamu.’ Saya pun memberikan sapi dan
kekayaan saya tersebut kepada mereka dan mereka pun membawa saya.
Ketika saya sampai di Wadil qura, mereka menipu saya dan menjual saya
kepada kepada seorang yahudi dan memperlakukan saya sebagai hambanya.
Suatu ketika, saudaranya dari suku Quraizah datang menemuinya, lalu dia
membeli dan membawa saya pergi ke Yasrib (Madinah). Di sana saya melihat
pohon kurma yang disebut oleh teman saya yang di Amuria, dari diskripsi
yang disampaikan teman saya itu, saya tahu persis bahwa inilah kota
yang dimaksudkan itu. Saya pun tinggal brsama tuan saya di kota itu.
Ketika itu Nabi saw. sudah mulai mengajak kaumnya di Mekah untuk masuk
Islam, namun saya tidak mendengar apa-apa dari kegiatan Nabi itu karena
kesibukan saya sehari-hari sebagai budak.
Memeluk Islam:
Tidak berapa lama, Rasulullah saw. pun hijrah ke Yasrib. Demi Allah
ketika saya berada di atas sebatang pohon kurma milik tuan saya, sedang
memberesi kurma itu, sedangkan tuan saya duduk dibawah, seorang
saudaranya datang dan mengatakan kepadanya, ‘Celaka besar atas bani
Qilah, mereka sekarang sedang berkumpul di Kuba, menunggu seorang yang
mengklaim dirinya sebagai seorang nabi akan datang hari ini.’ Setelah
saya mendengar pembicaraan mereka itu, saya langsung merinding kayak
demam, saya gemetar, sehingga saya khawatir akan jatuh ke tuan saya.
Saya segera turun dari pohon kurma tersebut lalu mengatakan kepada tamu
itu, ‘Apa tadi yang Anda katakan? Tolong ulangi katakan kepada saya!’
Tuan saya langsung marah dan memukul saya sekuat-kuatnya lalu
mengatakan, ‘Urusan apa kamu dengan berita itu? Kembali teruskan
pekerjaanmu!’
Di sore harinya, saya mengambil sedikit kurma yang telah saya
kumpulkan sebelumnya, lalu saya berangkat ke tempat Nabi tinggal. Ketika
itu saya mengatakan kepada Rasulullah, ‘Saya mendengar bahwa Anda
adalah orang saleh, datang bersama teman-teman dari kejauhan memerlukan
sesuatu. Di tangan saya ada sedikit sedekah, nampaknya kamu lebih pantas
menerimanya.’
Lalu saya dekatkan kurma itu kepada mereka. Rasulullah saw.
mengatakan kepada para Sahabat, ‘Makanlah’ sedangkan dia sendiri tidak
memakannya. Saya mengatakan dalam hati saya, ‘Ini dia satu tanda
kenabiannya.’ Kemudian saya kembali ke rumah dan mengambil beberapa
buah kurma, ketika Nabi saw. berangkat dari Quba ke Madinah, saya
mendatanginya dan mengatakan kepadanya, ‘Tampaknya Anda tidak memakan
sedekah, ini ada sedikit hadiah saya bawa sebagai penghormatan kepada
Anda.’ Rasululullah pun memakannya dan menyuruh sahabat untuk ikut
memakannya, lalu mereka makan bersama-sama. Dalam hati saya berkata,
‘Ini dia tanda kenabian kedua’
Ketika Nabi berada di Baqi Gargad, ingin menguburkan seorang sahabat,
saya mendatangi beliau dan melihat beliau sedang duduk memakai dua
selendang. Saya mengucapkan salam kepadanya, kemudian saya berjalan
berputar sekeliling beliau untuk melihat punggungnya, barang kali saja
saya dapat melihat cap seperti yang dikatakan oleh teman saya di
Amuriah. Setelah Nabi melihat bahwa saya memperhatikan punggung beliau,
dia mengerti tujuan saya lalu dia mengangkat selendangnya, ketika itu
saya melihat ada cap, lalu saya yakin bahwa itulah cap kenabian, lalu
saya memeluk dan mencium beliau sambil menangis. Melihat hal itu
Rasulullah saw. bertanya, ‘Apa gerangan yang terjadi pada kamu?’ Saya
pun menceritakan kisah saya dan beliau sangat kagum dan beliau
menginginkan agar saya perdengarkan kepada para sabahat, lalu saya
memperdengarkannya. Mereka semua kagum dan gembira yang tiada taranya.
Salman masuk Islam dan dimerdekakan, seterusnya menjadi seorang sahabat
yang sangat mulia. Dia sempat menjabat gubernur di zaman khulafaur
Rasyidun di beberapa negeri. Mudah-mudahan Allah meridai beliau.
Biografinya:
Dalam satu riwayat, disebutkan bahwa Rasulullah saw. pernah meletakkan
tangannya di atas Salman, lalu bersabda, ‘Seandainya iman berada nun
jauh di planet Tata surya, pasti akan dicapai oleh orang-orang mereka
ini.’ sambil beliau menunjuk kepada Salman r.a.
3. TAUBATNYA MALIK BIN DINAR
Diriwayatkan dari Mali bin Dinar, dia pernah ditanya tentang sebab-sebab
dia bertaubat, maka dia berkata : “Aku adalah seorang polisi dan aku
sedang asyik menikmati khamr, kemudia akau beli seorang budak perempuan
dengan harga mahal, maka dia melahirkan seorang anak perempuan, aku pun
menyayanginya. Ketika dia mulai bisa berjalan, maka cintaku bertambah
padanya. Setiap kali aku meletakkan minuman keras dihadapanku anak itu
datang padaku dan mengambilnya dan menuangkannya di bajuku, ketika
umurnya menginjak dua tahun dia meninggal dunia, maka aku pun sangat
sedih atas musibah ini.
Ketika malam dipertengahan bulan Sya’ban dan itu di malam Jum’at, aku
meneguk khamr lalu tidur dan belum shalat isya’. Maka akau bermimpi
seakan-akan qiyamat itu terjadi, dan terompet sangkakala ditiup, orang
mati dibangkitkan, seluruh makhluk dikumpulkan dan aku berada bersama
mereka, kemudian aku mendengar sesuatu yang bergerak dibelakangku.
Ketika aku menoleh ke arahnya kulihat ular yang sangat besar berwarna
hitam kebiru-biruan membuka mulutnya menuju kearahku, maka aku lari
tunggang langgang karena ketakutan, ditengah jalan kutemui seorang
syaikh yang berpakaian putih dengan wangi yang semerbak, maka aku
ucapkan salam atasnya, dia pun menjawabnya, maka aku berkata : “Wahai
syaikh ! Tolong lindungilah aku dari ular ini semoga Allah
melindungimu”.
Maka syaikh itu menangis dan berkata padaku : “Aku orang yang lemah
dan ular itu lebih kuat dariku dan aku tak mampu mengatasinya, akan
tetapi bergegaslah engkau mudah-mudahan Allah menyelamatkanmu”, Maka aku
bergegas lari dan memanjat sebuah tebing Neraka hingga sampai pada
ujung tebing itu, aku lihat kobaran api Neraka yang sangat dahsyat,
hampir saja aku terjatuh kedalamnya
karena rasa takutku pada ular itu.
Namun pada waktu itu seorang menjerit memanggilku, “Kembalilah engkau
karena engkau bukan penghuni Neraka itu!”, aku pun tenang mendengarnya,
maka turunlah aku dari tebing itu dan pulang. Sedang ular yang
mengejarku itu juga kembali. Aku datangi syaikh dan aku katakan, “Wahai
syaikh, aku mohon kepadamu agar melindungiku dari ular itu namun engkau
tak mampu berbuat apa-apa”. Menangislah syaikh itu seraya berkata, “Aku
seorang yang lemah tetapi pergilah ke gunung itu karena di sana terdapat
banyak simpanan kaum muslimin, kalau engkau punya barang simpanan di
sana maka barang itu akan menolongmu”
Aku melihat ke gunung yang bulat itu yang terbuat dari perak. Di sana
ada setrika yang telah retak dan tirai-tirai yang tergantung yang setiap
lubang cahaya mempunyai daun-daun pintu dari emas dan di setiap daun
pintu itu mempunyai tirai sutera. Ketika aku lihat gunung itu, aku
langsung lari karena kutemui ular besar lagi. Maka tatkala ular itu
mendekatiku, para malaikat berteriak : “Angkatlah tirai-tirai itu dan
bukalah pintu pintunya dan mendakilah kesana!” Mudah-mudahan dia punya
barang titipan di sana yang dapat melindunginya dari musuhnya (ular).
Ketika tirai-tirai itu diangkat dan pintu-pintu telah dibuka, ada
beberapa anak dengan wajah berseri mengawasiku dari atas. Ular itu
semakin mendekat padaku, maka aku kebingungan, berteriaklah anak-anak
itu : “Celakalah kamu sekalian!, Cepatlah naik semuanya karena ular
besar itu telah mendekatinya” Maka naiklah mereka dengan serentak, aku
lihat anak perempuanku yang telah meninggal ikut mengawasiku bersama
mereka. Ketika dia melihatku, dia menangis dan berkata : “Ayahku, demi
Allah!” Kemudian dia melompat bak anak panah menuju padaku, kemudian dia
ulurkan tangan kirinya pada tangan kananku dan menariknya, kemudian dia
ulurkan tangan kanannya ke ular itu, namun binatang tersebut lari.
Kemudian dia mendudukkanku dan dia duduk di pangkuanku, maka aku
pegang tangan kanannya untuk menghelai jenggotku dan berkata : “Wahai
ayahku! Belumkah datang waktunya bagi orang-orang yang beriman untuk
tunduk hati mereka mengingat Allah”. (QS. Al-Hadid : 16). Maka aku
menangis dan berkata : “Wahai anakku!, Kalian semua faham tentang
Al-Qur’an”, maka dia berkata :
“Wahai ayahku, kami lebih tahu tentang Al-Qur’an darimu”, aku berkata :
“Ceritakanlah padaku tentang ular yang ingin membunuhku”, dia menjawab :
“Itulah pekerjaanmu yang buruk yang selama ini engkau kerjakan, maka
itu akan memasukkanmu ke dalam api Neraka”, akau berkata : “Ceritakanlah
tentang Syaikh yang berjalan di jalanku itu”, dia menjawab : “Wahai
ayahku, itulah amal shaleh yang sedikit hingga tak mampu menolongmu”,
aku berkata : “Wahai anakku, apa yang kalian perbuat di gunung itu?”,
dia menjawab : “Kami adalah anak-anak orang muslimin yang di sini hingga
terjadinya kiamat, kami menunggu kalian hingga datang pada kami
kemudian kami memberi syafa’at pada kalian”. (HR. Muslim dalam shahihnya
No. 2635).
Berkata Malik : “Maka akupun takut dan aku tuangkan seluruh minuman
keras itu dan kupecahkan seluruh botol-botol minuman kemudian aku
bertaubat pada Allah, dan inilah cerita tentang taubatku pada Allah”.
Sumber: http://sedekahdoa.wordpress.com