Selasa, 02 Juli 2013

Menggenggam Dunia – (19) GENIUS

Keunggulan poin untuk Arif pada sesi pertama dengan poin lima ratus, disusul oleh Rahmat dan Aldita dengan empat ratus poin. Hanya selisih seratus poin dari Arif, dilanjutkan dengan sesi kedua yang kemungkinan besar akan terjadi perbedaan poin yang sangat besar. Karena selanjutnya adalah sesi pertanyaan rebutan.

Terlihat Pak Rudi beserta teman-teman Rahmat, merasakan perasaan harap-harap cemas selama berlangsungnya perlombaan cerdas cermat ini. Tak dipungkiri dengan para penonton yang lain, mungkin merasakan hal yang sama seperti yang kami rasakan terhadap jagoan mereka.

“Mas Arkan, kita berdoa saja semoga Rahmat berpeluang mendapatkan poin lebih dari yang lain.” Ujar Pak Rudi terhadapku.

“Iya, Pak. Saya harap juga seperti itu.” Jawabku. “Tapi, dari cara menjawab pada sesi pertama, Arif memang sangat berpotensi untuk lolos ke babak final. Kemampuan menjawab dia, tanpa memerlukan waktu yang lama. Saya salut dengan dia, Pak.”

“Waduh, yang penting kita doakan untuk Rahmat, Mas Akan.” Seloroh Pak Rudi dengan tampang cermasnya.

“Hehe, iya Pak.” Jawabku dengan guyon berharap menenangkan hati Pak Rudi.

“Ya, sesi pertanyaan rebutan ini terdiri dari sepuluh pertanyaan. Jika pertanyaan dijawab benar, akan mendapatkan poin seratus, sedangkan jika pertanyaan dijawab salah maka akan terjadi pengurangan poin seratus.” Ungkap juri perlombaan.

“Baik, pertanyaan masih di dalam amplop yang tersegel.” Ucap sang juri sembari membuka segel yang membuat nuansa hening, karena ketegangan yang berada di ruangan.

“Siap? Soal pertama. Indiche Partij adalah partai politik pertama di Hindia Belanda. Didirikan oleh tiga serangkai. Siapa saja anggota tiga serangkai?”

TETT. Bunyi bel dari meja Arif.

“Arif, silahkan jawab.” Ucap dewan juri.

“Douwes Deker, Tjipto Mangunkusumo, dan Suwardi Suryaningrat.” Jawab Arif.

“Betul! Seratus poin untuk Arif.” Sahut dewan juri diikuti tepuk tangan yang meriah dari penonton terutama pendukung dari sekolahnya.

Jawaban yang dikeluarkannya cukup meyakinkan. Aku melihat Rahmat sedikit agak tertekan diatas panggung. Terlihat tangannya sedikit gemetar, tanda ia memang tidak tenang.

Aku berusaha melambaikan tangan, ia melihat sekilas dengan wajah tanpa senyum. Aku hanya bisa membalas dengan kepalan tangan dan tesenyum untuk menyemangati dia. Dengan harap membuat dia sedikit tenang, diapun membalasnya dengan tersenyum.

“Pertanyaan kedua. Apakah ibu kota dari Negara Turki?”

TETT. Tiga meja bunyi hampir terlihat secara bersamaan, tetapi juri memutuskan bunyi bel pertama kali berasal dari meja Aldita.

“Aldita, silahkan jawab.”

“Istanbul.” Jawab ragu oleh Aldita

“Salah, pertanyaan dilempar.”

TETT. Kali ini bel dari meja Rahmat.

“Ankara.” Jawab Rahmat.

“Tepat! Ibu kota negara Turki adalah Ankara, sedangkan Istanbul merupakan kota terbesarnya. Seratus poin untuk Rahmat, dan kurangi seratus poin untuk Aldita.” Ucap dari dewan juri.

“Ayo, Met! Kamu pasti bisa juara Met!” sahut dari Ipul disertai tepuk tangan rekan-rekannya beserta Pak Rudi.

Jawaban benar dari Rahmat disertai semangat dari Saiful dan rekan-rekannya, membuatnya terlihat sedikit tenang dibandingkan sebelumnya. Memang terlihat sekali, ia berusaha untuk masuk ke dalam suasana lomba yang belum pernah ia hadapi sebelumnya. Aku yakin dia dengan mudah cepat untuk beradaptasi.

“Baik, pertanyaan ketiga. Tari Kipas, Tari Bosara, dan Tari Pakarena, berasal dari provinsi manakah tarian tersebut?”

TETT. Bunyi bel hanya berasal dari meja Arif dan Aldita.

“Iya, Arif terlebih dahulu.”

“Provinsi Sulawesi Selatan.”

“Seratus, untuk Arif.”

Tepuk tangan kembali terdengar dari pihak pendukung Arif. Rekannya dari SD Gentra, nampak tidak setegang dengan apa yang kami rasakan untuk mendukung Rahmat. Mereka terlihat sangat yakin, bahwa Arif akan lolos ke tahap berikutnya. Dan perwakilan gurunya, hanya terduduk manis tanpa rasa excited melihat perlombaan berlangsung.

“Pertanyaan keempat. Bagian pada mata yang berfungsi untuk mengatur banyak sedikitnya cahaya yang masuk adalah?”

TETT. Bel berbunyi secara serempak oleh tiga peserta.

“Ya, Rahmat. Silahkan jawab.”

“Pupil.” Rahmat menjawab yakin.

“Jawabannya, tepat! Seratus untuk Rahmat.”

Suara tepuk tangan kembali terdengar keras dari kami yang mendukung Rahmat. Perlahan tapi pasti, Rahmat tidak tertinggal jauh dari poin Arif yang hanya selisih seratus poin. Suasana lombapun semakin diliputi ketegangan, terutama dari pihak SD Gentra yang terlihat sudah mewaspadai Rahmat sebagai pesaing terberat perwakilan mereka. Akupun melihat guru yang cuek tadi, sudah menaruh perhatian dengan mengubah posisi duduknya yang terlihat tegang.

“Baik, pertanyaan kelima. Apakah yang dimaksud dengan majas ironi?”

TETT. Hanya Arif dan Aldita yang menekan bel.

“Ya, Aldita yang menekan terlebih dahulu. Silahkan menjawab.”

“Sindiran.” Singkat Aldita.

“Bisa lebih diperjelas lagi?” Pinta dewan juri.

“Oh ya, gaya bahasa yang bersifat menyindir tetapi dengan halus.” Ungkap Aldita.

“Tepat, poin seratus untuk Aldita.” Sahut dewan juri diiringi tepuk tangan dari pendukung Aldita.

“Ya, lima dari sepuluh pertanyaan telah terjawab. Kami akan menyampaikan poin sementara yang diraih dari masing-masing peserta. Saat ini, Arif dari SD Gentra masih unggul dengan tujuh ratus poin, disusul tipis oleh Rahmat dari SD Harapan dengan enam ratus poin, dan Aldita dari SD Dewi Sartika dengan empat ratus poin. Ya, beri tepuk tangan yang meriah untuk peserta kita!” ucap dewan juri.

Dilihat dari jalannya pertandingan, masing-masing peserta masih mempunyai peluang untuk menang dalam babak ini. Dari secara mental mereka semua sudah masuk dalam ritme pertandingan ini, yang dibutuhkan kali ini memang dari segi wawasan dan kecepatan dalam hal menjawab.

“Pertanyaan selanjutnya, yang keenam. Harap simak dengan baik. Mr. Michael goes to the bla bla bla. He wants to swimming with his friend. Lengkapi kalimat tersebut.”

TETT. Rahmat tak berkutik untuk menekan bel, hanya Aldita dan Arif yang menekan bel.

“Terlihat Aldita terlebih dahulu menekan, silahkan menjawab.”

Swimming pool.” Jawab Aldita.

“Silahkan untuk dieja kata tersebut.” Pinta dewan juri.

“Es-doubel you-ai-em-em-ai-en-ji. Pi-o-o-el.”

“Tepat, poin seratus untuk Aldita.” Ucap dewan juri diiringi tepuk tangan penonton yang mendukung masing-masing jagoannya.

“Baik, tersisa empat pertanyaan lagi. Ingat, masing-masing peserta masih memiliki kesempatan yang sama untuk lolos ke babak berikutnya. Diharapkan jangan sampai lengah. Selanjutnya, pertanyaan ke tujuh soal matematika, sediakan selembar kertas.”

Suasana ruangan kembali senyap diikuti ketegangan serta kecemasan yang tersirat pada wajah masing-masing pendukung. Tak kalah tegangnya dengan muka para peserta terlihat gregetan, sembari tangan kanan yang memegang alat tulis serta tangan kiri sudah siap diatas papan bel.

“Tiga jam ditambah dua ratus empat puluh detik sama dengan, berapa menitkah?”

TETT. Hanya Rahmat yang menekan bel dengan sangat cepat setelah juri selesai membacakan soal.

“Luar biasa, silahkan Rahmat.”

“Hem, tunggu.” Ucap Rahmat.

Ternyata yang dipikirkan Rahmat adalah dengan menekan bel terlebih dahulu baru menjawabnya. Ide bagus, tapi cukup rawan bila salah menjawab.

“Baik, kami hitung mundur. Lima… Empat… Tiga..,”

“Seratus delapan puluh empat menit.” Jawab Rahmat sedikit tergesa-gesa.

“Dan jawabannya, BENAR! Tambahan seratus poin untuk Rahmat.”

Yes! Sontak, suara tepuk tangan terdengar dari seluruh penonton, tak terkecuali Pak Rudi serta rekan-rekan yang terlihat berdecak kagum melihat aksi Rahmat.

“Baik, poin sementara Arif perwakilan dari SD Gentra dan Rahmat perwakilan dari SD Harapan memiliki poin yang sama yaitu tujuh ratus poin, lalu Aldita perwakilan dari SD Dewi Sartika dengan poin lima ratus.” Ucap dewan juri yang membuat suasana lomba semakin ramai dengan dukungan kepada masing-masing peserta.

“Tersisa tiga pertanyaan, penonton diharap tenang. Pertanyaan kedelapan, apakah organisasi di Indonesia yang didirikan pada 20 Mei 1908?”

TETT. Hanya Arif yang menekan bel, dengan kencang dan berulang-ulang. Mungkin dia takut didahului oleh peserta lain, walau kenyataannya hanya ia yang menekan bel.

“Budi Utomo.” Jawab Arif.

“Tepat! Organisasi Budi Utomo merupakan organisasi yang pertama di Indonesia yang dibentuk pada 20 Mei 1908. Seratus poin untuk Arif.”

Lagi-lagi, selisih seratus poin berhasil Arif raih untuk memimpin keunggulan poin sementara. Terlihat pendukung dari SD Gentra sedikit bernafas lega karena keunggulan itu, tetapi berbeda dengan yang terjadi pada kami untuk mendukung Rahmat.

Tersisa dua pertanyaan lagi. Secara persaingan untuk menuju babak final, hanya Arif dan Rahmat yang berpeluang lolos. Aldita sudah dipastikan gagal melaju di babak ini.

“Pertanyaan sembilan. Cystic fibrosis adalah sejenis penyakit karena kekurangan vitamin apa?”

TETT. Bel berbunyi dari meja Arif dan Rahmat. Jika kesempatan diberikan pada Rahmat, aku yakin dia bisa menjawabnya karena ia telah cukup belajar banyak dari buku kedokteran punyaku.

“Terlihat hampir secara bersamaan. Tapi juri memutuskan, Rahmat! Silahkan menjawabnya.”

“Vitamin E.” Jawab Rahmat.

“Tepat! Poin seratus untuk Rahmat. Sehingga perolehan poin untuk sementara Rahmat dan Arif dengan poin delapan ratus, dan Aldita dengan poin lima ratus.”

Tepuk tangan membahana dari seisi penonton yang melihat pertandingan ini. Nampak, jumlah kehadiran penonton semakin bertambah. Mungkin karena tiga pertadingan lain telah selesai, hingga mereka berkunjung ke tempat pertandingan yang masih berlangsung. Terlihat Fauzi, rekan Arif dari SD Gentra telah hadir bergabung untuk mendukung Arif.

“Baik, Aldita telah dipastikan tidak lolos untuk babak final dan untuk pertanyaan terakhir hanya ditujukan kepada Rahmat perwakilan dari SD Harapan dan Arif perwakilan dari SD Gentra untuk menjawab soal pamungkas. Soal matematika, diharap untuk mempersiapkannya. Penonton diharap tenang.” Ucap dewan juri yang memberikan nuansa tegang kepada para penonton.

“Soal terakhir, Budi pergi ke Lumajang mengendarai sepeda motor dengan kecepatan dua puluh kilometer per jam. Jarak Lumajang ke rumah Budi empat puluh kilometer. Jika Budi berangkat pukul delapan lebih sepuluh menit, maka pukul berapa Budi sampai di Lumajang?”

Arif dan Rahmat berkutik dengan lembar kertas dihadapannya, terlihat Rahmat mengerjakan soal lebih tenang dibandingkan Arif. Mungkin, aku merasa Arif akan lebih terbeban karena ia membawa nama baik sekolahnya yang terbilang kualitasnya lebih baik dari sekolah Rahmat.

TETT. Arif menekan bel terlebih dahulu. Sekejap, hal itu membuatku dan Pak Rudi terkulai lemas serta ekspresi pasrah yang beraneka ragam dari rekan-rekan Rahmat.

“Ya, Arif. Silahkan menjawabnya.”

“Pukul sepuluh tepat.”

“Baik, jawaban telah diterima. Dan, jawabannya adalah…” potong juri yang seakan membuat penonton ikut berdebar-debar. Rahmat telah selesai menghitung, terihat ia ragu dengan jawaban yang ada pada kertasnya.

“SALAH! Otomatis, Rahmat perwakilan dari SD Harapan yang melaju ke babak final. Selamat!!”

Pak Rudi yang semula lemas menjadi semangat dan gembira, seakan tak percaya dengan kelolosan bocah wakil dari SD Harapan tembus ke babak final yang belum pernah terjadi sebelumnya. Rekan-rekan Rahmat bersorak gembira, melihat keberhasilan Rahmat dan aku hanya tersenyum salut padanya.

“Baik, untuk Rahmat. Anda sudah dipastikan lolos ke babak final. Tetapi apakah Rahmat mempunyai koreksi atas jawaban dari Arif?” tanya dewan juri.

“Ya, hasilnya pukul sepuluh lebih sepuluh menit.” Jawab Rahmat dengan polosnya.

“Ya, jawabanmu tepat.” Balas dewan juri yang tak kalah bangga dengan Rahmat.

Memang luar biasa, bocah bernama Rahmat ini. Genius.

Sumber: http://aliwasi.wordpress.com








Tidak ada komentar:

Poskan Komentar