Selasa, 02 Juli 2013

Menggenggam Dunia – (18) Tak Ada Kata Mustahil

Pengumuman tinggal beberapa saat lagi, beberapa pesertapun mulai merasa ketegangan atas hasil yang mereka capai. Semua peserta, para pendamping dan penonton dikumpulkan dalam satu ruangan luas tempat gedung olahraga, sehingga menimbulkan suara sangat bergemuruh saking banyaknya para penonton yang hadir diluar pendamping dan peserta. Aku duduk bersama teman-teman Rahmat, sedangkan Rahmat bersama Pak Romli yang berdampingan dengan para peserta lain.

“Selamat Siang, semuanya.” Ucap salah seorang dari panitia di atas pangung yang terdengar dari speaker. “Baik, kami ucapakan terimakasih atas kehadiran Bapak dan Ibu serta anak-anak yang akan menjadi penerus Bangsa. Di sini kami akan membacakan peserta yang lolos ke babak selanjutnya, setelah mengikuti ujian tertulis yang diikuti oleh dua puluh delapan peserta dari perwakilan daerah. Peserta yang lolos ke babak selanjutnya sebanyak dua belas orang, dimana peserta selanjutnya akan mengikuti babak cerdas cermat meliputi semua mata pelajaran.”

Terdengar gemuruh suara tepuk tangan dari hadirin yang berada dalam ruangan itu.

“Baik, langsung saja kami umumkan satu persatu peserta yang lolos ke babak selanjutnya sesuai peringkat atas ujian tertulis. Peringkat pertama, kami ucapkan selamat kepada Fauzi Nurwenda dari SD Gentra.” Ucap panitia disertai suara tepuk tangan dari para penonton yang hadir. “Kepada Fauzi silahkan naik ke atas panggung. Selanjutnya, wakil dari SD Negeri Pajajaran yaitu Taufik Hidayat.”

Suara gemuruh kembali terdengar dari penonton yang hadir, untuk peringkat pertama dan kedua memang tidak mengejutkanku karena mendengar dari cerita Pak Romli, mereka berdua layak dijagokan untuk mewakili Tingkat Kota ke Tingkat Provinsi.

“Baik, selanjutnya peringkat ke tiga dalam ujian tertulis, jatuh kepada wakil dari SD Gentra yaitu Arif Saputra silahkan untuk naik ke panggung.” Kembali suara gemuruh penonton bertepuk tangan mengikuti langkah Arif menuju panggung.

“Kami ucapkan selamat kepada tiga besar peserta yang berhasil dalam ujian tertulis. Sebagai penghargaan, kepada tiga besar peserta akan mendapatkan sebuah bingkisan dari sponsor pada akhir acara. Kami lanjutkan kembali, untuk peringkat keempat dan kelima jatuh kepada Dewangga Aditya dari SD Negeri Pajajaran dan Kiki Haqiqi dari SD Babakan Sirna. Silahkan untuk naik ke atas panggung.”

Suara tepuk tangan kembali membahana untuk mereka yang dipanggil oleh panitia. Sudah lima peringkat yang dipanggil, dan masih ada harapan untuk Rahmat melengkapi dua belas peserta.

“Selanjutnya peringkat enam dan ketujuh, jatuh kepada perwakilan dari SD Baros Kencana yaitu Devi Sohifah dan Aldita Kumara dari SD Dewi Sartika. Kami persilahkan untuk naik ke panggung.”

Tinggal lima peserta lagi yang belum dipanggil, perasaanku diliputi harap-harap cemas dan berharap Rahmat dapat masuk dalam lima peserta yang belum dipanggil.

“Selanjutnya peringkat delapan dan kesembilan jatuh kepada perwakilan dari SD Pakujajar yaitu Adesti Pratiwi dan Hani Fauziah dari SD Brawijaya. Kami persilahkan untuk maju ke panggung.”

Tiga peserta lagi untuk melengkapi dua belas besar, peluang Rahmat semakin kecil karena dari sembilan belas peserta yang belum terpanggil hanya terpilih tiga orang peserta untuk melengkapi dua belas besar. Semoga tiga nama yang akan disebut, salah satunya adalah Rahmat.

“Dan tiga peserta terakhir adalah, Rahmat Dipraja dari SD Harapan, Geri Tria Irawan dari SD Kopeng, dan Romlan Satria dari SD Nusa Bangsa. Silahkan untuk naik ke atas panggung.”

Rahmat disebut oleh panitia dan berada di posisi sepuluh besar, tak ayal pengumuman terakhir itu membuat rasa harap-harap cemas berubah menjadi bahagia yang tiada kira. Aku bersama dengan teman-teman Rahmat bersorak gembira mendengar nama Rahmat masuk dalam babak selanjutnya. Aku yakin Pak Romli pasti bangga pula atas prestasi Rahmat yang sempat diragukan oleh rekan-rekan guru, karena hal itu merupakan untuk pertama kalinya untuk wakil dari sekolah tembus babak dua belas besar yang tak pernah dicapai semenjak diadakan lomba murid Teladan Tingkat Kota.

“Sekian pengumuman dari kami, terima kasih.” Ucap panitia mengakhirinya.

***
Aku bersama teman-teman Rahmat mengahampiri Pak Romli yang sedang berbincang dengan seorang pendamping peserta.

“Eh, Mas Arkan.” Sambut hangat Pak Romli yang terpancar kebahagian dari raut mukanya.

“Saya ingin bertemu dengan Rahmat, bisa Pak?” harapku.

“Wah, sepertinya sulit Pak. Tadi saya dapat pengumuman dari panitia, bahwa yang berhasil masuk dua belas besar akan langsung diamankan dalam arti jangan sampai pihak luar berusaha berkomunikasi dengan peserta sampai waktu yang telah ditentukan.” Ujar Pak Romli.

“Loh, kenapa Pak?”

“Karena itu mekanisme dalam peraturannya, Mas. Peserta yang lolos tidak bisa diberi kesempatan lagi untuk belajar dan langsung menuju pertandingan di cerdas cermat di babak kedua. Lalu saya dapat kabar juga, nanti babak selanjutnya dari dua belas peserta itu akan dibagi menjadi empat kelompok, jadi setiap kelompok ada tiga orang dan tiap kelompok itu hanya satu yang dapat tembus babak final. Saat ini, undian peserta lagi ditentukan dimana ditiap kelompok itu akan diwakili oleh empat besar dari peringkat ujian tertulis.”

“Sudah ditentukan, Pak?”

“Akan ditentukan sesaat lagi, Mas Arkan silahkan tunggu diruang penonton bersama Saiful dan yang lain untuk menyemangati Rahmat dari bangku penonton.”

Terlihat pihak panitia menghampiri para pendamping memberikan selembar kertas.

“Nah ini dia, masing-masing kelompok yang akan bertanding di babak kedua. Rahmat sekelompok dengan Arif yang berada di peringkat tiga dan Aldita peringkat tujuh.” Ucap Pak Romli dengan mimik yang sedikit pesimis.

“Boleh saya lihat kertasnya, Pak?” ucapku.

“Silahkan.”

Pak Romli memberikan lembaran kertas itu padaku. Selain Rahmat yang menjadi pusat perhatianku, aku mencari nama Fauzi yang telah memenangi peringkat pertama dalam ujian tertulis. Fauzi sekelompok dengan peringkat enam dan sebelas. Tak ada yang meragukan lagi, aku yakin Fauzi akan lolos ke tahap berikutnya. Sedangkan kelompok lain mempertemukan Taufik bersama peringkat sembilan dan dua belas, serta kelompok terakhir mempertemukan Dewangga, Kiki dan Adesti.

Dari hasil undian itu memang cukup sulit untuk tembus ke babak final. Menang ataupun kalah hal itu cukup menjadikan pengalaman yang berhaga untuk Rahmat, walau kesempatan ke final hanya satu berbading tiga tapi aku meyakini tak ada kata mustahil untuk menciptakan sebuah keajaiban.

***

Lomba Cerdas Cermat diadakan serempak untuk setiap kelompok diruangan yang berbeda. Aku bersama dengan Saiful dan kawan-kawan tak ada hentinya menyemangati Rahmat walau hanya berupa bahasa isyarat, karena penonton tidak diperkenankan untuk mengganggu peserta.

Aku melihat Rahmat terlihat agak sedikit gugup untuk memulai perlombaan ini dibanding dengan Arif yang sudah terbiasa mengikuti lomba. Disisi lain Aldita, seorang gadis cilik berambut panjang itu tampak pasrah dan terlihat selalu menunduk ke bawah, entah karena malu, grogi, ataupun tanda siap untuk mengibarkan bendera putih pada lawan-lawannya.

“Selamat Siang.” Ucap juri membuka perlombaan. “Selamat kepada para peserta yang berhasil lolos ke babak kedua. Di babak kedua ini, akan dilangsungkan Lomba Cerdas Cermat meliputi pelajaran Matematika, IPA, IPS, Bahasa Inggris, Bahasa Indonesia, Seni, dan Pendidikan Jasmani. Lomba akan berlangsung dalam dua sesi, sesi pertama para peserta dipersilahkan untuk memilih salah satu amplop yang berada di juri, dan amplop itu berisi lima pertanyaan yang akan ditanyakan langsung kepada peserta yang mengambil amplop tersebut. Satu pertanyaan benar mendapatkan poin seratus dan jika salah menjawab, pertanyaan akan dilempar kepada peserta lain. Untuk peserta pertama silahkan kepada Rahmat untuk mengambil amplop yang telah disediakan.”

Rahmat segera mengambil amplop lalu memberikannya pada juri.

“Baik, amplop masih dalam keadaan disegel.” Ucap juri sembari membuka amplop dengan menggunting ujungnya dan mengeluarkan kertas didalamnya. “Pertanyaan pertama mengenai Matematika. Apakah yang dimaksud dengan bilangan genap?”

“Bilangan yang bisa dibagi dua atau bilangan dengan kelipatan dua.” Jawab Rahmat dengan yakinnya.

“Poin seratus untuk Rahmat. Pertanyaan kedua, mengenai Ilmu Pengetahuan Alam. Sebutkan tiga macam makanan yang termasuk ke dalam protein nabati.”

“Tahu, tempe, dan …” Jawab Rahmat sembari mengira-ngira jawaban selanjutnya.

Juri melihat arloji menunggu Rahmat untuk melengkapi jawabannya. “Lima detik lagi, jika tidak menjawab dilanjutkan pada pertanyaan berikutnya.” Ucap Juri.

“Kacang. Kacang-kacangan.” Ucap Rahmat.

“Poin seratus untuk Rahmat.”

Sontak suara tepuk tangan dari teman-teman Rahmat dan Pak Romli yang sebelumnya tegang karena Rahmat terlihat kesulitan untuk menjawab pertanyaan.

“Baik, penonton diharap tenang. Pertanyaan selanjutnya, mengenai Ilmu Pengetahuan Sosial. Siapakah presiden pertama Republik Indonesia?”

“Bapak Insinyur Soekarno.” Jawab Rahmat.

“Poin seratus untuk Rahmat, pertanyaan berikutnya mengenai kesenian. Termasuk dari daerah manakah alat musik angklung?”

“Jawa Barat.”

“Poin seratus untuk Rahmat, dan pertanyaan terakhir untuk sesi pertama mengenai pendidikan jasmani. Sepak bola berasal dari negara?”

“Brasil.” Jawab Rahmat dengan yakin.

“Salah, yang benar adalah dari Negara Inggris.”

Terlihat Pak Romli seperti menyayangkan karena Rahmat gagal menjawab pertanyaan kelima. Rekan-rekan Rahmat pun hanya bisa menghembuskan nafas panjang, tanda gregetan mereka karena melihat Rahmat menjawab salah.

Poin untuk sesi pertama yang dikumpulkan oleh Rahmat adalah dengan poin empat ratus.”

Sumber:  http://aliwasi.wordpress.com






Tidak ada komentar:

Poskan Komentar