Sabtu, 14 September 2013

Semua Kehendak Allah

ALLAAHU AKBAR ALLAAHU AKBAR..!! pukul 04:40 pagi, aku membuka mata, mendengarkan lantunan adzan subuh yang begitu indah. Hati ini terasa tenang dan damai tatkala adzan berkumandang menandakan waktu sholat untuk beribadah kepada Allah SWT telah tiba. Yang sedari malam, aku tak bisa beristirahat dengan tenang karena kepalaku sakit dan tubuhku serasa akan demam, pupus sudah setelah mendengar lantunan adzan yang begitu merdu masuk ke telingaku. Aku ingat saat masih kecil. Ketika itu aku sedang bermain di halaman rumah bersama Abi, yang kemudian aku mendengar sebuah lantunan merdu yang menggetarkan hati ini. Serasa aku ingin meneteskan air mata mendengar lantunan merdu tersebut yang begitu mampu membuat diriku terkesima.

“Abi, suara merdu apa ini?,” tanyaku pada Abi. Abi tersenyum dan mendekatiku.
“Alhamdulillah, waktu sholat telah tiba. Nisa, itu adalah adzan yang menandakan waktu sholat telah tiba. Kita sebagai umat muslim wajib mengerjakan sholat ketika waktunya tiba,” tutur Abi padaku.
“Tapi kok disini terasa tentram dan tenang, Abi? tadi waktu lagi main, Nisa ga ngerasain apa-apa, tapi.. saat suara merdu yang Abi sebut adzan itu terdengar, di sini terasa tenang. Kenapa Abi?,” tanyaku polos dengan wajah lugu sambil menunjuk dadaku sendiri. Abi memegang pundak kecilku kemudian tersenyum.

Kenangan masa lalu. Aku segera bangkit dari tempat tidurku kemudian mengambil air Wudlu untuk mensucikan diri dari hadats. Setelah selesai, aku mengenakan mukena sholat yang berguna untuk menutupi aurat. Aku ingat betul kata-kata Abi, kalau sedang sholat aurat kita harus tertutup. Abi banyak mengajarkan tentang Islam kepadaku. Abi mengajarkan sholat, mengaji, puasa dan lain-lain kepadaku. Sedangkan Ummi selalu menasihatiku agar menjaga ucapan dan selalu berbuat baik terhadap sesama. Subhanallah, terima kasih Ya Allah, Engkau menghadirkan seorang Ayah dan seorang Ibu yang begitu mulia di mataku. Yang selalu mendekatkan diri kepada-MU dan mengajarkan kepadaku untuk senantiasa mendekatkan diri kepada-MU.

Aku berdoa, agar Abi mendapat tempat di sisi Allah SWT, menjadi salah seorang penghuni surga. Aku berdoa agar diberi kesabaran dan kekuatan dalam menghadapi segala cobaan yang Allah SWT berikan kepadaku dan kepada Ummi. Ketika Abi meninggal, aku sangat terpukul. Hatiku begitu sakit ditinggal oleh Abi yang selama ini selalu menemani hari-hariku dan mengajarkanku bagaimana menjadi seorang muslimah. Apalagi saat Abi meninggal, Ummi begitu merasakan kesedihan hingga beliau jatuh pingsan di sebelah jenazah Abi yang telah dikafani. Melihat Ummi yang begitu menderita atas kepergian Abi, aku sangat sedih. Yang bisa aku lakukan hanyalah berdoa dan menyerahkan semuanya kepada Sang Khalik, yang menciptakan bumi beserta isinya dan yang menciptakan makhluk hidup yang ada di dunia ini. Saat Abi meninggal, aku sempat marah kenapa Allah mengambil nyawa Abi. Namun, aku kembali mengingat ucapan Abi ketika di rumah sakit dan segera beristigfar memohon ampun kepada Allah atas sikapku.

“Kalau Abi sudah pergi, Nisa sama Ummi jangan sedih, ya? jangan marah, jangan kecewa. Karena sesungguhnya semua yang hidup pasti akan merasakan mati. Dan semua makhluk hidup yang telah diciptakan Allah SWT suatu saat akan kembali kepadaNYA. Nisa sama Ummi harus lebih bersabar dalam menjalani hidup, bahkan ketika cobaan hidup datang kalian harus terus berdoa. Ketika cobaan dan masalah datang, Nisa jangan pernah berpikir kalau Allah tidak sayang sama Nisa dan Ummi, justru Allah sangat sayang sama Nisa dan Ummi. Ingat, Allah SWT tidak akan pernah memberikan cobaan diluar batas kemampuan manusia. Ketika sedang sedih ataupun senang, Nisa harus terus mengingat Allah. Jangan pernah tinggalkan sholat dan terus berdzikir kepada Allah. Nisa mengerti, kan apa yang Abi katakan?,” tutur Abi dengan suara pelan.

Aku meneteskan air mata mengingat perkataan Abi. Aku berdoa agar Abi dijauhkan dari siksa kubur dan api neraka yang amat mengerikan. Ya Allah, aku berterima kasih dan sangat bersyukur kepada-MU karena telah menghadirkan seorang Ayah seperti Abi. Aku sangat bersyukur memiliki orangtua sholeh dan sholeha seperti Abi dan Ummi. Semoga aku bisa menjadi seorang muslimah yang baik seperti Ummi. Amin, Ya Rabb. Selepas sholat subuh, aku mengambil Al-qur’an dan mulai membaca ayat suci Al-qur’an. Kemudian teringat lagi ketika Abi mengajariku membaca Al-qur’an dan menyuruhku menghapalkan surah-surah pendek yang terdapat di dalam Al-qur’an setiap selesai mengaji. Saat kecil, kita pasti pernah diceritakan dongeng sebelum tidur oleh orangtua kita. Disaat anak-anak lain minta diceritakan dongeng cinderella, putri salju, rapunzel dan cerita anak lainnya, Aku justru meminta kepada Abi dan Ummi untuk diceritakan kisah para Nabi dan Rasul. Dan banyak pelajaran berharga yang aku dapat. Subhanallah, aku bersyukur mempunyai sebuah keluarga kecil yang sakinah, mawaddah, warahmah.

Pagi hari. Ayam tetangga berkokok bersahut-sahutan dengan sesama ayam lainnya. Burung-burung berkicau di antara ranting-ranting pepohonan. Matahari mulai terbit di ufuk Timur menghangatkan pagi di hari itu. Udara bersih masih menyegarkan pagi itu. Aku membuka jendela kamarku, menghirup udara segar nan bersih, melihat orang-orang yang mulai lalu lalang di jalan depan rumah. Aku meraih tas cokelat yang aku beli tahun lalu, sambil bergumam “Saatnya memulai hari dengan Bismillah..,”.

“Nisaaa. Ayo sarapan,” panggil Ummi dari ruang makan.
“Iyaa, Ummi,” sahutku sambil mengenakan kaos kaki kemudian keluar dari kamar menuju ruang makan. Aroma roti panggang mulai tercium, Uuhh.. wanginya roti buatan Ummi, gumamku tersenyum.
“Pagi, Ummi,” sapaku ramah sambil melihat hidangan sarapan pagi yang telah Ummi siapkan di meja.
“Pagi, nak. Ayo duduk,” Ummi mempersilakan aku duduk menikmati sarapan pagi buatan Ummi.
“Wah, kayaknya enak, nih. Hehe..,” godaku.
“kok kayaknya, sih?,” tanya Ummi dengan raut wajah yang sengaja dibuat cemberut.
“Iya, deh. Roti panggang ini pasti enak. kan buatan Ummi,” pujiku sambil tertawa kecil. Ummi tersenyum mendengar pujianku. Ya Allah, senang rasanya melihat Ummi bisa tersenyum seperti itu. Terakhir kali aku lihat Ummi tersenyum saat Abi masih ada. Semoga Ummi akan selalu tersenyum seperti ini. Rasanya bahagia melihat Ummi tersenyum lagi. Terima kasih, Ya Allah.
“Nis, kamu mau berangkat kerja sekarang?,” tanya Ummi sambil mengoles selembar roti panggang dengan selai buah.
“Iya, Ummi,” jawabku sambil meneguk segelas susu hangat. Perlahan wajah Ummi berubah diam, datar.
“Ummi kenapa diam? ada masalah, ya Ummi?.” tanyaku pelan sambil melihat raut wajah Ummi yang berubah. Ya Allah, baru saja Ummi tersenyum sekarang Ummi terlihat sedih lagi.
“Ah, tidak kok, nak. Ummi hanya kesepian di rumah soalnya kamu berangkat kerja pagi-pagi pulangnya juga malam. Coba masih ada Abi kamu, Nis. Pasti Ummi tidak akan kesepian terus,” kata Ummi sedih. Matanya mulai berkaca-kaca menandakan sebentar lagi Ummi akan meneteskan air mata. Padahal, mata Ummi sudah sembab. Aku tidak tega melihat Ummi sedih, lalu kupegang tangan Ummi.
“Ummi.. ummi ga usah sedih. Ummi ga kesepian, kok. Kan Allah selalu berada di dekat hambaNYA, kan. Allah selalu berada di hati hambaNYA yang mulia seperti Ummi. Dan juga… Ummi ga perlu khawatir sama Abi. Abi pasti udah mendapatkan tempat yang indah di Surga. Abi juga pasti sedih kalau melihat Ummi sedih atas dirinya. Abi ga akan senang kalau Ummi selalu bersedih atas kepergian Abi. Ummi, kita ga boleh terus-terusan sedih. Kepergian Abi merupakan kehendak Allah SWT, dan kita harus yakin semua itu adalah rencana terbaik Allah untuk kita berdua. Ummi juga ingat, kan apa kata Abi? Abi bilang kita ga boleh sedih kalau nanti Abi udah ninggalin kita. Kita hanya harus berdoa kepada Allah agar kita diberi kesabaran dan kekuatan atas cobaan Allah. Jadi, Ummi ga perlu sedih lagi ya?,” ucapku pada Ummi. Ummi menghapus air matanya kemudian tersenyum melihatku.
“Ummi bersyukur sekali masih punya kamu disisi Ummi, Nis. Tidak terasa kamu telah tumbuh menjadi anak yang sholeha seperti dambaan Abi sama Ummi,” ucap Ummi tersenyum, namun masih menyisakan air mata di sudut matanya. Aku tersenyum. Kemudian menyalami tangan Ummi berpamitan untuk berangkat kerja.

Siang hari. Matahari bersinar terik. Beberapa orang mencoba berlindung di tempat teduh. Seorang perempuan berteduh di bawah pepohonan menghindari sengatan sinar matahari. Namun tidak denganku. Aku tidak berlindung di tempat teduh atau di bawah pohon. Aku sudah cukup teduh dengan jilbab dan pakaian yang kukenakan, melindungiku dari sengatan sinar matahari yang panas. Namun, siapa sangka, di hari itulah awal pertemuanku dengan seorang lelaki yang sekarang menjadi Imam bagi anak-anakku.

Hari itu, aku bertemu dengan Mas Syawal sepulang dari kantor. Kami bertemu saat aku sedang menunggu taksi di pinggir jalan dekat kantor. Mas Syawal saat itu tengah menjemput Sarah, adik kecilnya yang sedang duduk di bangku Sekolah Dasar. Aku masih ingat ketika masih SMA dulu, Sarah masih bayi. Aku sering melihat Mas Syawal menggendong Sarah di teras rumahnya. Saat itu juga, diam-diam terselip di hatiku rasa kagum kepada Mas Syawal. Subhanallah, disaat semua anak-anak muda seumuran Mas Syawal masih bergelit dengan foya-foya, pacaran sana sini, Mas Syawal memilih membantu Ibunya menjaga Sarah dan melaksanakan sholat berjamaah di masjid. Aku kagum dengan kepribadian Mas Syawal yang beda dengan anak laki-laki lainnya. Itulah mengapa aku selalu melewati daerah rumahnya dengan mengendarai sepeda hanya untuk melihat Mas Syawal. Kalau mengingat kejadian tersebut, aku merasa lucu dan malu. Yah, namanya anak remaja pasti pernah merasakan rasa kagum terhadap lawan jenisnya. Aku juga pernah dinasehati Abi dan Ummi kalau rasa suka tersebut memang tidak dilarang, namun harus dalam batas-batas tertentu. Aku juga mengerti apa yang dimaksud Abi dan Ummi, kalau aku boleh suka kepada lawan jenis, tetapi aku tidak boleh melakukan apa yang anak muda lakukan, yaitu PACARAN! Abi dan Ummi mengatakan kalau pacaran memang dibenarkan dalam Islam, tetapi dilakukan setelah menikah bukan sebelum menikah. Pacaran sebelum menikah adalah zina dan zina adalah perbuatan yang keji. Aku bersyukur, tumbuh dalam sebuah keluarga yang dekat dengan Islam, dekat dengan Allah SWT. Masa-masa remajaku aku lalui dengan baik dan benar, semua karena bimbingan Abi dan Ummi.

Ketika sedang menunggu taksi di pinggir jalan, sebuah mobil berwarna putih berhenti tepat di depanku. Seorang pria mengenakan setelan hitam keluar dari mobil tersebut kemudian menatapku. Pria itu tersenyum ramah. Aku melihat sekilas wajah pria tersebut, sepertinya aku mengenalnya tetapi aku tidak tahu siapa dia.
“Assalamu’alaikum,” Ucapnya ramah padaku.
“Wa’alaikumsalam,” Jawabku masih dengan tatapan keheranan.
“Maaf sebelumnya. Saya ingin bertanya. kamu Nisa, kan?,” tanyanya. Aku mengerutkan kening. Bagaimana dia tahu namaku? siapa dia? wajahnya terlihat tidak asing.
“Iya. Maaf, anda siapa, ya? kok tahu nama saya?,” tanyaku balik. Pria tersebut tersenyum lebar.
“Jadi kamu Nisa? Nisa Annisa, kan? Nis, ini aku, Syawal. Ingat ga? kita dulu bersekolah di SMA yang sama. Syawal,” Ucapnya sedikit senang. Aku terkejut mendengar pengakuannya. Lalu kuperhatikan wajahnya. Astagfirullah, dia memang Mas Syawal.
“Mas Syawal? aduh, maaf mas tadi saya ga ngenalin wajahnya Mas Syawal. Subhanallah, Mas Syawal ternyata ga berubah. Akunya saja yang lupa,” tukasku tersenyum.
“Kamu juga ga berubah kok, Nis. Alhamdulillah, setelah bertahun-tahun aku baru ketemu sama kamu di sini. Bagaimana kabar kamu, Nis?,”
“Alhamdulillah baik, Mas Syawal. Mas Syawal gimana, baik keadaannya?,”
“Alhamdulillah, aku baik kok, Nis,” jawabnya. Pintu mobil kembali terbuka, kali ini seorang gadis kecil berkerudung keluar dari mobil tersebut.
“Kak, kok kita berhenti?,” tanyanya.
“Oh, iya, Nis. Kenalin, ini Sarah adikku. Sarah, kenalin ini kakak Nisa, teman sekolah kak Syawal,” ucapnya mengenalkan kami. Aku tersenyum sambil menyebutkan namaku. Sarah juga tersenyum sambil menyalami tanganku dengan sopan. Sarah gadis kecil yang sopan, aku juga bisa merasakan kalau Sarah adalah anak yang baik.
“Nisa, kamu baru pulang kerja, ya?,” tanya Mas Syawal.
“Iya, Mas. Ini aku lagi nungguin taksi. Eh ga taunya Mas Syawal datang. Tadi aku pikir siapa lho, mas ternyata Mas Syawal,”
“Rumah kamu masih yang dulu, kan? aku antarin kamu pulang, ya sekalian masih banyak yang mau aku bicarakan sama kamu. Boleh aku antar pulang?,” ajaknya dengan sopan.
“Oh, ga usah Mas Syawal. Takut ngerepotin,”
“Ngga, kok. Ngga ngerepotin sama sekali. Malah aku senang ngantarin teman lama pulang. Dari pada kamu kepanasan di sini, lagi pula sebentar lagi waktunya sholat Dzuhur, kan?,” tanyanya. Mas Syawal meminta agar dia mengantarku pulang. Awalnya aku tidak enak harus merepotkan Mas Syawal, namun mengingat waktu sholat Dzuhur sebentar lagi tiba, aku menerima tawarannya. Kami pulang bersama siang itu. Di perjalanan, banyak hal yang ditanyakan Mas Syawal. Kami bercerita tentang pendidikan kami dan banyak hal. Dalam sekejap, kami menjadi akrab kembali hanya karena pertemuan di siang itu.

Sesampainya di rumah, aku mengajak Mas Syawal singgah di rumah dan kukenalkan kepada Ummi. Ketika waktu sholat dzuhur tiba, kami memutuskan untuk sholat berjamaah di rumah. Aku, Ummi dan Sarah menjadi makmumnya sedangkan Mas Syawal sebagai imam saat itu. Aku tahu, semua kejadian hari itu, pertemuan itu adalah kehendak Allah SWT. Allah SWT mempertemukan kembali aku dengan Mas Syawal. Selepas sholat, kami kebali bercerita sekedar menambah keakraban di antara keluargaku dan Mas Syawal.

Hari-hari berlalu dengan cepat. Mas Syawal ternyata manajer baru di kantor tempat aku bekerja. Suatu kebetulan yang luar biasa. Aku semakin yakin ada sebuah alasan mengapa Allah SWT menghendaki Mas Syawal bertemu denganku. Walaupun seorang manajer, Mas Syawal tidak bersikap angkuh dan sombong. Dia tetap ramah kepada siapa saja, entah itu karyawan atau pun office boy yang ada di kantorku. Oleh karena itu, Mas Syawal disenangi semua orang. Semua orang menyukai kepribadiannya yang baik dan tidak sombong. Aku dan Mas Syawal semakin akrab, karena kami bekerja di tempat yang sama. Aku menjadi kebingungan, tatkala rasa yang pernah aku rasakan sewaktu dulu kini kembali muncul di hatiku. Ya Allah, rasa apakah ini? mengapa rasa ini kembali muncul setelah sekian tahun lamanya aku tak bertemu dengannya? Ampunilah aku atas rasa yang tidak benar ini, Ya Allah! aku tidak boleh menyukai Mas Syawal tanpa adanya status pernikahan yang jelas. Bagaimana mungkin aku menyukai seorang pria padahal aku belum menikah dengannya?

Setiap malam aku berdoa. Aku berdoa, jika memang ia jodohku maka dekatkanlah ia padaku, Ya Allah. Ridhoilah perasaan ini, karena sesungguhnya hamba yang mulia adalah hamba yang mencintai dan dicintai karena Allah SWT. Namun, jika ia bukan jodohku maka jangan biarkan rasa ini terus berada di dalam hatiku. Aku ikhlas jika memang ia bukan jodohku, bukan calon imamku kelak. Ya Allah, Engkaulah yang mengatur segalanya, rezeki bahkan jodoh. Yang manusia bisa lakukan hanya berdoa dan memohon kepada-MU Ya Allah.

Hingga suatu hari. Suatu hari dimana Allah telah manjawab semua doaku. Suatu hari dimana aku akan mendapatkan kebahagiaan yang luar biasa. Semua atas kehendak Allah SWT. Mas Syawal mengkhitbahku!! ia ingin menjadikan aku pendamping hidupnya, seperti Nabi Adam dan Hawa. Ia ingin menjadi imam bagi anak-anakku kelak. Ia ingin aku menjadi seorang Ibu bagi anak-anaknya nanti. Ia juga mengatakan, untuk apa ia melanjutkan pendidikan keluar negeri kalau ternyata tulang rusuknya berada di dekatnya saat ini. Ia ingin menikahiku. Subhanallah, air mataku menetes mendengar perkataannya di depan Ummi dan keluarganya. Aku sangat bahagia mendengar Mas Syawal ingin menikahiku, ingin membangun rumah tangga denganku. Ummi melihatku menangis penuh keharuan kemudian memelukku : “Sekarang kamu bukan Nisa kecil Ummi lagi, nak! tapi kamu sekarang adalah calon seorang Ibu bagi anak-anakmu nanti. Kamu akan menjadi seorang “Ummi”, seperti Ummi,” Ummi membisikkanku kata-kata tersebut dengan lembut. Aku sangat bahagia. Di tengah-tengah kebahagiaan itu, ada satu kesedihan yang melanda hatiku. Kebahagiaan itu ternyata terasa tak lengkap, ketika aku mengingat Abi yang saat itu tidak berada di sampingku, merasakan kebahagiaan yang sama.

Abi, andai Abi berada di sini saat ini, lengkaplah sudah semua kebahagiaanku. Tapi aku tahu, Abi pasti sedang bahagia di surga sana, melihat putri kecilnya yang akan menikah dengan seorang pria seperti Abi. Abi, Mas Syawal akan menjadi suami Nisa, seperti Abi yang telah menjadi suami Ummi dan Ayah bagi aku. Ingin rasanya Abi berada di sini, melengkapi semua kebahagiaan ini. Terimah kasih, Abi sudah membimbing Nisa selama ini, mengajari Nisa berbagai hal.
Ya Allah, Terima kasih telah mempertemukan aku dengan Mas Syawal. Ridhoilah pernikahan kami. Karena sesungguhnya kami berdua saling mencintai karenaMU Ya Allah. Dan semua ini terjadi atas izinMU, yang dapat memisahkan kami hanya Engkau, Ya Allah. Aku bersyukur kepadaMU karena telah menghadirkan mereka di kehidupanku. Amin, Ya Rabb.

Cerpen Karangan: Rizka Dwigrah. P

Sumber: http://cerpenmu.com

Tidak ada komentar:

Posting Komentar