Setelah menunggu setengah hari, akhirnya surat pengumuman kelulusan
sampai juga, dan aku dinyatakan lulus, alkhamdulillah nilainya
memuaskan. Begitu pula sahabatku Astrid. Kami sangat bahagia, tidak sia-sia usaha giat dalam belajar akhirnya membuahkan hasil yang maksimum.
Meneruskan jenjang pendidikan ke Perguruan Tinggi adalah rencana kita. Dari berbagai banyak pertimbangan, akhirnya kita memilih UIN Yogyakarta. Setelah dinyatakan diterima, kami pun mencari tempat tinggal. Tiba-tiba teringat akan nasihat Ibu tercinta,
“Nduk,
carilah ilmu sebanyak-banyaknya, tidak hanya ilmu duniawi saja, tetapi
ilmu akhirat pun harus dicari dan diamalkan. Tujuan hidup kita adalah
bahagia dunia akhirat. Jagalah diri kalian masing-masing dan hiduplah
dilingkungan orang-orang yang sholeh, ibu hanya bisa mendoakan dari
sini. Semoga kalian sukses dunia akhirat.” Di ucapkan dengan suara
halusnya.
Akhirnya kami memutuskan untuk tinggal di sebuah pesantren yang letaknya
tidak jauh dari kampus kami. Astrid adalah sahabat dekatku, sejak
SD,SMP,SMA, bahkan sekarang di PT kami pun bersama. Suka duka kami
rasakan bersama. Tetapi ada satu hal yang membedakan kami, yaitu masalah
percintaan. Astrid jagonya dalam menggaet cowo manapun yang disukainya.
Hampir tidak terhitung berapa banyak cowo yang di deketin. Beda halnya
dengan aku, aku belum berani untuk bermain-main dengan hati. Entah aku
tidak peduli dengan orang-orang yang menganggap aku tidak butuh seorang
pendamping hidup. Yang aku pikirkan saat ini belajar dengan sungguh-sungguh.
***
Hari pertama masuk pesantren membuat aku terkejut dengan keadaan di
pesantren, aku yang terbiasa hidup dalam keadaan rapi, suasana yang
tenang, kini semua itu berbanding terbalik. Sungguh membuat aku ingin
pingsan seketika. Barang-barang berserakan tidak jelas dimana tempat
aslinya, disetiap sudut-sudut tembok terdapat tumpukan baju yang tidak
rapi, entah itu baju bersih atau kotor, keadaan kamar mandi yang begitu
menjijikan membuat aku tidak ingin memasukinya. Ya Allah inikah tempat
yang di inginkan Ibu untuk aku tempati..?? sejenak aku menganggap Ibuku
kejam, tega membiarkan anaknya hidup dalam keadaan seperti ini. Tetapi
pikiran buruk itu aku buang jauh-jauh, karena aku yakin Ibuku ingin aku
menjadi anak yang terbaik.
“Apa kamu yakin mau tinggal ditempat ini?” tanya Astrid kepada ku..
“Yakin..! kenapa tidak.....?” dengan tegas aku menjawabnya.
Mendengar
jawabanku yang meyakinkan, Astrid pun ikut yakin untuk tinggal di
pesantren ini. Kami berdua berjalan mencari kamar yang disediakan untuk
kami. Tetapi belum ketemu-ketemu, karena tempatnya begitu luas.
Tiba-tiba ada seorang santriwati menghampiri kami,
“Assalamu’alaikum ya ukhti..?”
“Wa’alaikumsalam.. ukhti..”
“Afwan, ukhti-ukhti ini santri baru ya?”
“Ia
benar, perkenalkan saya Keyla dan ini teman saya Astrid, kami sedang
mencari kamar yang disediakan untuk kami. Tetapi kami belum
menemukannya..”
“Ohh..saya aminah, afwan ukhti ! sebaiknya ukhti soan
ke ndalem dahulu.. nanti disana bertemu dengan Abah dan Umi. Nanti baru
kami tunjukan kamar yang bisa ukhti tempati..”
“Soan ? Ndalem?” Astrid seketika terkejut.
“Ya ukh, soan itu seperti halnya orang bertamu, sedangkan ndalem itu tempat tinggalnya Kyai. Mari saya antar ke ndalem”
Aku dan Astrid saling
menatap dan tersenyum bersama, dan akhirnya kami ikuti santriwati itu
ke ndalem. Letaknya tidak terlalu jauh dari asramanya. Sesampainya di
depan ndalem lalu santriwati itu mengetuk pintu, dan mengucapkan salam.
Melihat sikap dan tingkah laku santriwati itu sangat sopan. Kami heran,
di zaman Agnes Monica ternyata masih ada orang seperti Siti Nurbaya.
“Assalamu’alaikum.....??”
“Wa’alaikumsalam..” dari arah dalam Umi menjawab salamnya.
“Ngapunten Umi, niki wonten santri enggal bade soan.”
“Ya silahkan masuk, sebentar nunggu Abah ya.”
“Nggihh...” kami serentak menjawabnya.
Aku dan Astrid hanya diam dan tersenyum ketika mendengar percakapan diantara Bu nyai dan santrinya.
Abah
pun keluar, dan kami duduk di ruang tamu bersama Umi dan Abah. Aku
memulai pembicaraannya dengan sedikit deg-degan karena berhadapan dengan
seorang Kyai.
“Maaf Abah Umi, kita dari Semarang. Perkenalkan nama
saya Keyla Nur Istiqomah, dan ini teman saya Astrid Pangesti. Kami
berniat untuk masuk ke pesantren ini”
“Ya kami ucapkan selamat
datang. Yang terpenting ketika belajar dipesantren adalah sabar dan
istiqomah, insya Allah bisa dan semoga ilmunya bermanfaat.”
Itulah
sepenggal nasihat dari Abah. Setelah mendengar berbagai nasihat dan
cerita dari Abah dan Umi. kami pun pamit dan menuju ke asrama. Tiba-tiba
Umi menghentikan langkah kami.
“Sebentar mba Keyla, di ndalem ada
kamar kosong, berhubung putri kami sekarang kuliah di Amerika. Ada
baiknya jika kamarnya diisi mba Keyla dan mba Astrid. Bagaimana?”
Sejenak
kami berdiam, dan serentak menyetujui tawaran Umi untuk tinggal di
ndalem. Karena pertimbangan dari pada kamarnya kosong, sedangkan di
asrama sepertinya penuh, jadi untuk sementara kami disuruh untuk
menempatinya untuk menggantikan anak bungsunya yang sekarang kuliah di
Amerika.
“Ternyata jika hati kita ikhlas menerimanya, maka kita
diberikan yang terbaik untuk kita, buktinya kita menempati tempat yang
nyaman dan bersih seperti ini.” Astrid hanya tersenyum mendengar
ucapanku.
Kami mulai merapikan barang-barang kami. Dan tidak terasa
waktu ashar pun tiba, kami siap-siap berangkat jam’ah dan memulai
aktivitas mengaji. Diawal pertemuan kami pun memperkenalkan diri kami di
depan banyak santri. Ternyata begitu banyak santrinya, ada yang masih
kecil ada yang remaja dan ada yang dewasa. Jelas saja karena pesantren
ini dibuka untuk umum.
***
3 tahun sudah aku dan Astrid menetap di pesantren. Kuliah pun berjalan
dengan lancar. Kini aku semester 7, itu artinya harus lebih giat dan
serius untuk menggarap skripsi.
Tiba-tiba Astrid menepuk punggungku dengan tangannya ketika aku sedang duduk asik sambil baca buku.
“Key, kamu tau tidak, santri-santri sedang asik berbincang-bincang tentang apa?”
“Tidak,
memang apa? Awas loh jangan nggosip lagi seperti kemarin-kemarin. Ntar
kamu yang terjebak sendiri...!” aku mewanti-wanti sahabatku karena
memang kupingnya diman-mana.
“Kata santri, bentar lagi putra Abah yang di kairo pulang.”
“Ah kata siapa kamu? memang Abah punya putra yang di kairo?”
“Yaah
sahabatku yang satu ini ketinggalan berita. Abah memang punya putra
yang kuliah di kairo, sudah 4 tahun belum pernah pulang. Denger-denger
si ganteng. Heheeee..”
“Mulai deh kamu. Cowo mana aja kamu gebet...” Ledek ku pada Astrid.
“Biarin. Awas loh kalo kamu sampai naksir.”
“Astrid senyum-senyum sendiri, sepertinya dalam pikirannya membayangkan yang aneh-aneh.”
“Ketimbang
kamu naksir sama orang yang belum jelas, siapa itu namanya? Zulfi ya.
Hanya sekedar di dunia maya. Kalau cowo itu gentle, pasti dia sudah
menemui kamu. Coba kamu pikir key, sudah 2 tahun lamanya kamu dekat
dengan cowo, dan itu pun hanya dalam sebuah jejaring sosial Facebook.
Sedangkan kamu belum tau wujud aslinya seperti apa, keluarganya
bagaimana. Kapan kamu bertemu? “Dan yang aneh lagi kenapa kamu bisa suka
dan mempertahankan dia. Padahal cowo-cowo yang ada di sekitar kita
banyak yang ngantri buat ndapetin kamu. Tapi sayang tidak ada yang kamu
respon satupun. Kamu sadar gak sih key....???” Dengan panjang lebar
Astrid berusaha menyadarkanku.
“Aku tidak tahu kenapa aku bisa
mempunyai keyakinan dengan Zulfi. Meskipun hanya di dunia maya. Aku
nyaman, aku tenang, aku baru merasakan perasaan seperti ini. Kamu tahu
aku belum pernah berpengalaman dekat sama laki-laki. Mungkin ini kuasa
Allah. Belum saatnya untuk bertemu dengannya. Aku terus berharap suatu
saat nanti aku bisa bertemu dengannya.”
“Mau sampai kapan key?? “
“Aku
hanya bisa sabar, dan menanti takdir Allah. Sudah lah kamu tidak perlu
pusing memikirkan aku ya. Aku punya sahabat sepertimu saja sudah merasa
bahagia, dan cukup untuk menjadi teman keluh kesah, canda tawa. Aku
sayang kamu Astrid.....”sambil memeluknya aku teteskan air mata
dipipiku.
“Aku juga sayang kamu key, kamu sahabat terbaik ku. Aku
tidak akan pernah melupakanmu. Jika memang menanti laki-laki itu membuat
kamu bahagia, akupun ikut bahagia. Sudah ya jangan nangis lagi. Ayo
dong senyum.” diusaplah airmata dipipiku olehnya. Dan setelah itu kami
tersenyum bahagia.
***
Ternyata benar apa yang dikatakan Astrid 1 minggu yang lalu. Putra Abah pulang.
“Astrid
!!! benar apa yang kamu katakan 1 minggu yang lalu, putra Abah pulang,
nanti sore insya Allah sampai di rumah. Tadi pagi Umi bilang padaku
kalau putranya pulang dan diperkirakan sampai rumah nanti sore. Jadi
kita disuruh nyiapin makanan untuk nanti sore.”
“Asiiik, akhirnya aku ketemu cowo ganteng. Hhehe..”Astrid kegirangan.
Terdengar
suara mobil didepan. Seorang laki-laki berpostur tubuh tinggi berkulit
putih dengan wajah yang menenangkan jika dipandang, dan senyuman yang
sangat manis turun dari mobil, dan mencium tangan Abah dan Umi. Apakah
dia putranya yang digemari banyak santriwati.? Aku dan Astrid mengintip
dari jendela.
“Waahhh gantengnya,, lihat key.!! Memang benar-benar ganteng ya.,” Astrid memujinya.
Abah
Umi dan putranya duduk bersama di ruang tamu, terlihat sangat bahagia
karena putranya yang dibanggakan akhirnya pulang dengan selamat. Karena
sekitar 4 tahun mereka tidak bertemu, dan akhirnya rasa kangen yang
terobati dengan kembali berkumpul.
Aku dan Astrid mengantarkan
minuman keruang tamu. Aku hanya bisa menundukan kepalaku, karena rasa
malu yang luar biasa, dan jantung yang berdetak begitu kencang membuat
aku nerves ketika mengantarkan minuman. Astrid ada di depanku membawa
makanan ringan.
“Terimakasih, ini santri-santri yang tinggal di sini.” Ucap Umi memperkenalkan kami pada putranya.
Setelah
selesai menyuguhkan makanan dan minuman, kami pun kembali ke kamar.
Astrid senyum-senyum terus karena merasa senang bertemu dengan laki-laki
ganteng.
“Ganteng banget key, aku benar-benar menyukainya. Aku
memimpikan punya pendamping hidup seperti dia key. Bagaimana menurutmu
key?”
“Apa dia mau sama kamu,, hehe” nadaku bercanda.
“Ah kamu, sahabat lagi bahagia palah di ledekin, gak asiik ah.,” kesal Astrid padaku.
“Sudah-sudah yuk belajar, besok ujian kan..” ajaku pada Astrid.
***
Sebelum aku baringkan tubuhku diatas ranjang, tiba-tiba aku ingin
membuka Facebook, barangkali ada pesan dari Zulfi, laki-laki yang selama
ini ada di hatiku. Dan ternyata benar dia kirim pesan.
“Keyla, aku
sekarang sudah di indonesia, 2 hari yang lalu aku sampai dirumah.
Bagaimana keadaanmu, baik-baik saja kan? Aku ingin bertemu. Aku tunggu
besok ba’da dhuhur di masjid Ar-Rahman dekat pesantren kamu. Aku harap
kamu bisa datang. Aku ingin perkenalkan kamu pada orang tuaku.”
Aku
kaget, senang, takut, campur aduk gak jelas. Entah apa yang akan aku
lakukan. Sampai malam pun aku tidak bisa tidur karena teringat pesan
itu. Dan akhirnya aku ambil air wudhu dan shalat tahajud.
“Ya Allah Dzat yang Maha membolak mbalikan hati,
Aku serahkan semua urusanku padaMU
Berikanlah yang terbaik untukku ya Rabb
Jika memang laki-laki yang aku nanti adalah jodohku
Maka berikanlah kesabaran dalam penantianku
Dan jika laki-laki yang aku nanti bukan untukku
Maka balikanlah hati ini, dan berikanlah rasa ikhlas”
Setelah selesai bermunajat hati dan pikiranku mulai tenang.
Waktu
dhuhur telah tiba, kini saatnya aku siap-siap untuk menemui Zulfi
ditempat yang di janjikan. Astrid tidak mengetahui pertemuanku dengan
Zulfi, karena aku takut dia marah-marah pada zulfi yang telah
menggantungkan perasaanku selama 2 tahun. aku datang menemui Zulfi
sendirian.
Ketika aku sampai di masjid, aku terkejut seketika. Di
dalam masjid ada Abah, Umi, putranya dan ternyata Astrid juga ada dan
beberapa santri. Aku bingung kenapa mereka semua berkumpul disini, apa
mereka tahu kalau aku mau menemui laki-laki yang aku nanti? Lalu aku
berjalan mendekati mereka.
“Keyla, sini mendekat.” Ucap Umi memanggilku untuk mendekat.
“Apa kamu mencari sosok laki-laki yang menjajikan akan menemuimu di masjid ini?”
“Benar Umi..”
“Ini
laki-laki yang selama ini kamu nanti, anak Umi, namanya Ahmad Zulfikar.
Umi sudah mendengar banyak cerita dari Astrid. Kesetiaanmu menunggu
pasangan hidupmu kini sudah terjawab. Umi bangga kepadamu. Kamu begitu
sabar menantinya. Ahmad juga sering cerita sama Umi lewat telfon kalau
dia mengagumi seorang perempuan. Dan tidak disangka kalau ternyata
perempuan itu akan nyantri dipesantren ini. Makanya untuk mengenal lebih
dekat kami tempatkan kalian di ndalem” Umi menceritakan kejadian
sebenarnya.
Aku semakin bingung dengan keadaan ini semua. Ingin
rasanya lari meninggalkan masjid ini, tapi sulit bagiku. Aku pun hanya
terdiam dalam wajah kebingungan.
Zulfi pun angkat bicara,
“Aku lah Zulfi Key, mau kah kamu menyempurnakan separuh agamaku??”
Detak
jantungku semakin kencang, mulut tidak bisa berucap sekatapun. Hanya
kedua mataku yang langsung mengarah ke Astrid sahabatku. Karena aku tau
kalau dia mengharapkan untuk menjadi pendamping Gus Ahmad. Astrid
mendekatiku,
“Tenang sayang, aku hanya mengaguminya, dia untukmu. Aku
bahagia akhirnya laki-laki yang kamu nanti sudah jelas wujudnya
sekarang. Dan dia melamarmu key. Ayo ini saatnya kamu ungkapkan
perasaanmu yang sudah lama kamu pendam key”
“Bagaiman key,” tanya Zulfi.,
“a..a...a.kuu terima...” jawabku gemetar.
“Alkhamdulillah...”
serentak orang yang ada didalam masjid. Kini aku merasakan suasana yang
selalu bahagia mengiringi langkahku untuk melewati hari demi hari.
Seusai
wisuda, Zulfi, yang sekarang aku panggil Gus Zulfi, karena dia putra
Kyai, datang kerumah dan segera diselenggarakan acara Ijab Qobul.
Mungkin
ini yang dinamakan barokahnya berbakti kepada orang tua, yang pada
akhirnya aku hidup di pesantren, sehingga aku bisa bertemu dengan cinta
sejatiku. Dan keikhlasan dalam menanti akhirnya berbuah manis.
***
Sumber: lokerseni.web.id
Selasa, 18 Maret 2014
Dialog Raja dan Malaikat Maut
Sahabat Yazid Arruqasyu meriwayatkan, pada masa Bani Israil ada seorang penguasa zalim.
Dalam berkuasa, raja tersebut menindas rakyat dan tidak perbah berbuat kebajikan. Pada suatu hari raja tersebut duduk di singgasananya dan tiba-tiba ia melihat seorang laki-laki masuk melalui pintu istana.
Orang asing itu bertampang keji, berbadan besar dan menakutkan.
Raja sangat ketakutan dengan kehadirannya, dia khawatir laki-laki itu akan menyerangnya. Wajahnya pucat pasi dan bergetar,
"Siapakah engkau ini? Siapa yangtelah menyuruhmu masuk ke istanaku?" tanya raja ketakutan.
"Pemilik rumah ini yang menyuruhku ke sini. Ketahuilah bahwa tak ada dinding yang dapat menghalangiku, dan aku tidak memerlukan izin untuk masuk ke manapun," kata laki-laki asing itu dengan suara agak kasar.
"Apakah engkau tidak takut dengan para sultan di kerajaanku ini?" tanya raja dengan gemetar.
"Aku tidak takut oleh kekuasaan para sultan. Dan ketahuilah, tidak ada seorangpun yang dpat lari dari jangkauanku," kata laki-laki itu dengan bengisnya.
MALAIKAT MAUT DATANG
Setelah mendengar perkataan orang itu, wajah raja menjadi pusat pasi dan badannya menggigil, ia amat ketakutan dengan situasi ini.
"Apakah engkau Malaikat Maut?" tanya raja menebak.
"Benar, akulah Malaikat Maut yang diutus untuk mencabut nyawamu," kata malaikat maut tanpa tersenyum sedikitpun.
"Aku
bersumpah demi Allah, berilah aku penangguhan satu hari saja agar dapat
bertobat dari segala dosaku. Aku akan memohon keringanan dari Tuhanku.
Aku akan menginfakkan harta benda yang aku miliki, hingga tak terbebani
oleh azab akibat harta itu di akhirat kelak," pinta raja.
"Bagaimana aku dapat menangguhkan, padahal umurmu sudah habis dan waktu sudah ditetapkan tertulis," kata Malaikat Maut.
"Aku mohon tangguhkanlah sesaat saja," rayu raja sekali lagi.
"Sesungguhnya jangka waktu itu telah diberikan, tetapi engkau lalai dan menyia-nyiakannya. Jatah nafasmu sudah habis, tidak tersisa satu nafaspun untukmu," ujar Malaikat Mautyang mendekat seolah henadak mencabut nyawa raja.
MATI BELUM BERTOBAT
Raja semakin ketakutan dengan kata-kata Malaikat Maut itu. Namun ia tetap bersikeras ingin meminta penangguhan kematian.
"Jika aku mati sekarang, siapa yang akan menyertaiku di alam kubur?" tanya raja zalim itu.
"Tidak ada yang menyertaimu kecuali amalmu," jawab Malaikat Maut.
"Aku tidak mempunyai amal kebaikan. Selama ini aku lalai kepada Allah SWT," jelas raja zalim itu.
"Jika demikian, neraka dan murka Allah adalah tempat yang layak untukmu," tegas Malaikat Maut.
Kemudian Malaikat Maut mencabut nyawanya, sehingga raja itu terjatuh dari singgasananya. Dan sang raja akhirnya mati sebelum bertobat.
Datangnya maut tidak dapat ditunda sedetik pun, apapun jabatan seseorang. Permintaan penangguhan ditolak mentah-mentah oleh Malaikat Maut yang langsung mencabut nyawanya.
Sumber: kisahislamiah.blogspot.com
Dalam berkuasa, raja tersebut menindas rakyat dan tidak perbah berbuat kebajikan. Pada suatu hari raja tersebut duduk di singgasananya dan tiba-tiba ia melihat seorang laki-laki masuk melalui pintu istana.
Orang asing itu bertampang keji, berbadan besar dan menakutkan.
Raja sangat ketakutan dengan kehadirannya, dia khawatir laki-laki itu akan menyerangnya. Wajahnya pucat pasi dan bergetar,
"Siapakah engkau ini? Siapa yangtelah menyuruhmu masuk ke istanaku?" tanya raja ketakutan.
"Pemilik rumah ini yang menyuruhku ke sini. Ketahuilah bahwa tak ada dinding yang dapat menghalangiku, dan aku tidak memerlukan izin untuk masuk ke manapun," kata laki-laki asing itu dengan suara agak kasar.
"Apakah engkau tidak takut dengan para sultan di kerajaanku ini?" tanya raja dengan gemetar.
"Aku tidak takut oleh kekuasaan para sultan. Dan ketahuilah, tidak ada seorangpun yang dpat lari dari jangkauanku," kata laki-laki itu dengan bengisnya.
MALAIKAT MAUT DATANG
Setelah mendengar perkataan orang itu, wajah raja menjadi pusat pasi dan badannya menggigil, ia amat ketakutan dengan situasi ini.
"Apakah engkau Malaikat Maut?" tanya raja menebak.
"Benar, akulah Malaikat Maut yang diutus untuk mencabut nyawamu," kata malaikat maut tanpa tersenyum sedikitpun.
"Aku
bersumpah demi Allah, berilah aku penangguhan satu hari saja agar dapat
bertobat dari segala dosaku. Aku akan memohon keringanan dari Tuhanku.
Aku akan menginfakkan harta benda yang aku miliki, hingga tak terbebani
oleh azab akibat harta itu di akhirat kelak," pinta raja."Bagaimana aku dapat menangguhkan, padahal umurmu sudah habis dan waktu sudah ditetapkan tertulis," kata Malaikat Maut.
"Aku mohon tangguhkanlah sesaat saja," rayu raja sekali lagi.
"Sesungguhnya jangka waktu itu telah diberikan, tetapi engkau lalai dan menyia-nyiakannya. Jatah nafasmu sudah habis, tidak tersisa satu nafaspun untukmu," ujar Malaikat Mautyang mendekat seolah henadak mencabut nyawa raja.
MATI BELUM BERTOBAT
Raja semakin ketakutan dengan kata-kata Malaikat Maut itu. Namun ia tetap bersikeras ingin meminta penangguhan kematian.
"Jika aku mati sekarang, siapa yang akan menyertaiku di alam kubur?" tanya raja zalim itu.
"Tidak ada yang menyertaimu kecuali amalmu," jawab Malaikat Maut.
"Aku tidak mempunyai amal kebaikan. Selama ini aku lalai kepada Allah SWT," jelas raja zalim itu.
"Jika demikian, neraka dan murka Allah adalah tempat yang layak untukmu," tegas Malaikat Maut.
Kemudian Malaikat Maut mencabut nyawanya, sehingga raja itu terjatuh dari singgasananya. Dan sang raja akhirnya mati sebelum bertobat.
Datangnya maut tidak dapat ditunda sedetik pun, apapun jabatan seseorang. Permintaan penangguhan ditolak mentah-mentah oleh Malaikat Maut yang langsung mencabut nyawanya.
Sumber: kisahislamiah.blogspot.com
Senin, 03 Maret 2014
Satu Tubuh
Suatu hari, di medan perang Yarmuk, dengan membawa sedikit air
Khudzaifah bin Adi ra menemui saudaranya (anak pamannya) yang
tergeletak penuh luka. Ketika menjumpainya, ia berkata kepadanya, ”Aku
tuangkan air ini kepadamu!” Saudaranya pun memberi isyarat mengiyakan.
Ketika hendak menuangkan ke dalam mulutnya, terdengar suara, ”Ah, ah, ah.” Saudaranya itu memberi isyarat kepada Khudzaifah agar ia memberikan air itu kepada orang yang berteriak, merintih kesakitan itu.
Khudzaifah pun menghampiri orang itu. Dan ternyata ia adalah Hisyam bin Ash ra. ”Aku akan tuangkan air ini kepadamu,” ucap Khuzaifah dengan rasa iba. Hisyam pun memberi isyarat mempersilahkannya. Ketika hendak dituangkan ke dalam mulutnya terdengar kembali suara, ”Ah, ah, ah,” dari sampingnya. Hisyam memberi isyarat kepadanya agar memberikan air itu kepada orang yang berteriak sekarat itu.
Sesampainya di sana, Khudzaifah mendapati orang yang ditunjuk Hisyam telah menemui ajalnya, mati syahid. Lalu ia kembali berjalan pada Hisyam, namun Hisyam juga telah bertemu Allah SWT, wafat. Ia sedih. Setelah itu ia bergegas menemui kembali saudaranya. Namun sama, pamannya juga telah menemui syahidnya. Kisah ini dituturkan Imam Syanqithi dalam kitab Adhwaa al-Bayaan.
Fragmen ini menjelaskan bahwa setiap Muslim merasakan saudara Muslim lain adalah bagian dari dirinya. Mereka pun tidak memandang siapa yang diberi pertolongan olehnya. Tidak pula menolong karena tendensi demi kepentingan. Juga sampai tidak memandang bahwa saat itu dirinya pun sangat membutuhkan pertolongan. Bahkan meskipun kebutuhan itu berkait erat dengan hidupnya.
Ini adalah potret ukhuwah Islamiyah yang sebenarnya. Satu bentuk persaudaraan yang mengalahkan segalanya, sampai kepentingan untuk dirinya sendiri sekalipun, atau yang disebut dengan itsaar (mendahulukan orang lain meskipun dirinya membutuhkannya). Persaudaraan ini mengalahkan persaudaraan nasab, kedaerahan, suku, partai, kebangsaan, lintas identitas-identitas primordial dan lintas kepentingan.
Tepat kata Nabi SAW, ”Perumpamaan orang-orang mukmin dalam saling mencintai, saling mengasihi dan saling simpati mereka bagaikan satu tubuh; jika salah satu anggota tubuh merasakan sakit maka seluruh tubuh yang lain merasakannya dengan tidak bisa tidur dan demam.” (HR Muslim).
Nabi SAW mengibaratkan persaudaraan sesama Muslim dengan logika satu tubuh. Logika satu tubuh adalah logika saling terkait, saling merasakan, saling membantu dalam satu kesatuan. Dalam artian, ketika kita melihat saudara seiman kita kelaparan, dilanda sakit kita juga harus ikut merasakan dan membantunya. Begitu pula ketika kita senang, kita tak boleh lupa membagikan kesenangan kita pada saudara kita. Adakah itu ada di sekitar kita saat ini?
***
Sumber: ervakurniawan.wordpress.com
Ketika hendak menuangkan ke dalam mulutnya, terdengar suara, ”Ah, ah, ah.” Saudaranya itu memberi isyarat kepada Khudzaifah agar ia memberikan air itu kepada orang yang berteriak, merintih kesakitan itu.
Khudzaifah pun menghampiri orang itu. Dan ternyata ia adalah Hisyam bin Ash ra. ”Aku akan tuangkan air ini kepadamu,” ucap Khuzaifah dengan rasa iba. Hisyam pun memberi isyarat mempersilahkannya. Ketika hendak dituangkan ke dalam mulutnya terdengar kembali suara, ”Ah, ah, ah,” dari sampingnya. Hisyam memberi isyarat kepadanya agar memberikan air itu kepada orang yang berteriak sekarat itu.
Sesampainya di sana, Khudzaifah mendapati orang yang ditunjuk Hisyam telah menemui ajalnya, mati syahid. Lalu ia kembali berjalan pada Hisyam, namun Hisyam juga telah bertemu Allah SWT, wafat. Ia sedih. Setelah itu ia bergegas menemui kembali saudaranya. Namun sama, pamannya juga telah menemui syahidnya. Kisah ini dituturkan Imam Syanqithi dalam kitab Adhwaa al-Bayaan.
Fragmen ini menjelaskan bahwa setiap Muslim merasakan saudara Muslim lain adalah bagian dari dirinya. Mereka pun tidak memandang siapa yang diberi pertolongan olehnya. Tidak pula menolong karena tendensi demi kepentingan. Juga sampai tidak memandang bahwa saat itu dirinya pun sangat membutuhkan pertolongan. Bahkan meskipun kebutuhan itu berkait erat dengan hidupnya.
Ini adalah potret ukhuwah Islamiyah yang sebenarnya. Satu bentuk persaudaraan yang mengalahkan segalanya, sampai kepentingan untuk dirinya sendiri sekalipun, atau yang disebut dengan itsaar (mendahulukan orang lain meskipun dirinya membutuhkannya). Persaudaraan ini mengalahkan persaudaraan nasab, kedaerahan, suku, partai, kebangsaan, lintas identitas-identitas primordial dan lintas kepentingan.
Tepat kata Nabi SAW, ”Perumpamaan orang-orang mukmin dalam saling mencintai, saling mengasihi dan saling simpati mereka bagaikan satu tubuh; jika salah satu anggota tubuh merasakan sakit maka seluruh tubuh yang lain merasakannya dengan tidak bisa tidur dan demam.” (HR Muslim).
Nabi SAW mengibaratkan persaudaraan sesama Muslim dengan logika satu tubuh. Logika satu tubuh adalah logika saling terkait, saling merasakan, saling membantu dalam satu kesatuan. Dalam artian, ketika kita melihat saudara seiman kita kelaparan, dilanda sakit kita juga harus ikut merasakan dan membantunya. Begitu pula ketika kita senang, kita tak boleh lupa membagikan kesenangan kita pada saudara kita. Adakah itu ada di sekitar kita saat ini?
***
Sumber: ervakurniawan.wordpress.com
Suara Emas Dari Ethiopia
Suatu malam, jauh sepeninggal Rasulullah, Bilal bin Rabbah, salah
seorang sahabat utama, bermimpi dalam tidurnya. Dalam mimpinya itu,
Bilal bertemu dengan Rasulullah.”Bilal, sudah lama kita berpisah, aku
rindu sekali kepadamu,” demikian Rasulullah berkata dalam mimpi
Bilal.”Ya, Rasulullah, aku pun sudah teramat rindu ingin bertemu,” kata
Bilal masih dalam mimpi-Nya. Setelah itu, mimpi tersebut berakhir begitu
saja. Dan Bilal bangun dari tidurnya dengan hati yang gulana. Ia
dirundung rindu.
Keesokan harinya, ia menceritakan mimpi tersebut pada salah seorang sahabat lainnya. Seperti udara, kisah mimpi Bilal segera memenuhi ruangan kosong di hampir seluruh penjuru kota Madinah. Hari itu, Madinah benar-benar terbungkus rasa haru. Kenangan semasa Rasulullah masih bersama mereka kembali hadir, seakan baru kemarin saja Rasulullah tiada. Satu persatu dari mereka sibuk sendiri dengan kenangannya bersama manusia mulia itu.
Menjelang senja, penduduk Madinah seolah bersepakat meminta Bilal mengumandangkan adzan Maghrib, padahal Bilal sudah cukup lama tidak menjadi muadzin sejak Rasulullah tiada. Seolah, penduduk Madinah ingin menggenapkan kenangannya hari itu dengan mendengar adzan yang dikumandangkan Bilal. Akhirnya, setelah diminta dengan sedikit memaksa, Bilal pun menerima dan bersedia menjadi muadzin kali itu. Senjapun datang mengantar malam, dan Bilal mengumandangkan adzan. Tatkala, suara Bilal terdengar, seketika, Madinah seolah tercekat oleh berjuta memori. Tak terasa hampir semua penduduk Madinah meneteskan air mata. “Marhaban ya Rasulullah,” bisik salah seorang dari mereka.
Sebenarnya, ada sebuah kisah yang membuat Bilal menolak untuk mengumandangkan adzan setelah Rasulullah wafat. Waktu itu, beberapa saat setelah malaikat maut menjemput kekasih Allah, Muhammad, Bilal mengumandangkan adzan. Jenazah Rasulullah, belum dimakam-kan. Satu persatu kalimat adzan dikumandangkan sampai pada kalimat, “Asyhadu anna Muhammadarrasulullah.” Tangis penduduk Madinah yang mengantar jenazah Rasulullah pecah. Seperti suara guntur yang hendak membelah langit Madinah.
Kemudian setelah, Rasulullah telah dimakamkan, Abu Bakar meminta Bilal untuk adzan. “Adzanlah wahai Bilal,” perintah Abu Bakar. Dan Bilal menjawab perintah itu, “Jika engkau dulu membe-baskan demi kepentinganmu, maka aku akan mengumandangkan adzan. Tapi jika demi Allah kau dulu membebaskan aku, maka biarkan aku menentukan pilihanku”. “Hanya demi Allah aku membebaskanmu Bilal,” kata Abu Bakar. “Maka biarkan aku memilih pilihanku,” pinta Bilal. “Sungguh, aku tak ingin adzan untuk seorang pun sepeninggal Rasulullah,” lanjut Bilal.
“Kalau demikian, terserah apa maumu,” jawab Abu Bakar.
Bilal bin Rabah, terakhir melaksanakan tugasnya sebagai muadzin saat Umar bin Khattab menjabat sebagai khalifah. Saat itu, Bilal sudah bermukim di Syiria dan Umar mengunjunginya. Saat itu, waktu shalat telah tiba dan Umar meminta Bilal untuk mengumandangkan adzan sebagai tanda panggilan shalat. Bilal pun naik ke atas menara dan bergemalah suaranya.
Semua sahabat Rasulullah, yang ada di sana menangis tak terkecuali. Dan di antara mereka, tangis yang paling kencang dan keras adalah tangis Umar bin Khattab. Dan itu, menjadi adzan terakhir yang dikumandangan Bilal, hatinya tak kuasa menahan kenangan manis bersama manusia tercinta, nabi akhir zaman.
***
Sumber: ervakurniawan.wordpress.com
Keesokan harinya, ia menceritakan mimpi tersebut pada salah seorang sahabat lainnya. Seperti udara, kisah mimpi Bilal segera memenuhi ruangan kosong di hampir seluruh penjuru kota Madinah. Hari itu, Madinah benar-benar terbungkus rasa haru. Kenangan semasa Rasulullah masih bersama mereka kembali hadir, seakan baru kemarin saja Rasulullah tiada. Satu persatu dari mereka sibuk sendiri dengan kenangannya bersama manusia mulia itu.
Menjelang senja, penduduk Madinah seolah bersepakat meminta Bilal mengumandangkan adzan Maghrib, padahal Bilal sudah cukup lama tidak menjadi muadzin sejak Rasulullah tiada. Seolah, penduduk Madinah ingin menggenapkan kenangannya hari itu dengan mendengar adzan yang dikumandangkan Bilal. Akhirnya, setelah diminta dengan sedikit memaksa, Bilal pun menerima dan bersedia menjadi muadzin kali itu. Senjapun datang mengantar malam, dan Bilal mengumandangkan adzan. Tatkala, suara Bilal terdengar, seketika, Madinah seolah tercekat oleh berjuta memori. Tak terasa hampir semua penduduk Madinah meneteskan air mata. “Marhaban ya Rasulullah,” bisik salah seorang dari mereka.
Sebenarnya, ada sebuah kisah yang membuat Bilal menolak untuk mengumandangkan adzan setelah Rasulullah wafat. Waktu itu, beberapa saat setelah malaikat maut menjemput kekasih Allah, Muhammad, Bilal mengumandangkan adzan. Jenazah Rasulullah, belum dimakam-kan. Satu persatu kalimat adzan dikumandangkan sampai pada kalimat, “Asyhadu anna Muhammadarrasulullah.” Tangis penduduk Madinah yang mengantar jenazah Rasulullah pecah. Seperti suara guntur yang hendak membelah langit Madinah.
Kemudian setelah, Rasulullah telah dimakamkan, Abu Bakar meminta Bilal untuk adzan. “Adzanlah wahai Bilal,” perintah Abu Bakar. Dan Bilal menjawab perintah itu, “Jika engkau dulu membe-baskan demi kepentinganmu, maka aku akan mengumandangkan adzan. Tapi jika demi Allah kau dulu membebaskan aku, maka biarkan aku menentukan pilihanku”. “Hanya demi Allah aku membebaskanmu Bilal,” kata Abu Bakar. “Maka biarkan aku memilih pilihanku,” pinta Bilal. “Sungguh, aku tak ingin adzan untuk seorang pun sepeninggal Rasulullah,” lanjut Bilal.
“Kalau demikian, terserah apa maumu,” jawab Abu Bakar.
Bilal bin Rabah, terakhir melaksanakan tugasnya sebagai muadzin saat Umar bin Khattab menjabat sebagai khalifah. Saat itu, Bilal sudah bermukim di Syiria dan Umar mengunjunginya. Saat itu, waktu shalat telah tiba dan Umar meminta Bilal untuk mengumandangkan adzan sebagai tanda panggilan shalat. Bilal pun naik ke atas menara dan bergemalah suaranya.
Semua sahabat Rasulullah, yang ada di sana menangis tak terkecuali. Dan di antara mereka, tangis yang paling kencang dan keras adalah tangis Umar bin Khattab. Dan itu, menjadi adzan terakhir yang dikumandangan Bilal, hatinya tak kuasa menahan kenangan manis bersama manusia tercinta, nabi akhir zaman.
***
Sumber: ervakurniawan.wordpress.com
Anak Sepasang Bintang
Bunda …, jadah itu artinya apa?”
Bunda tersentak waktu itu. Tak menyangka pertanyaan itu akan keluar dari sela bibir mungilku, gadis kecilnya yang baru berumur lima tahun. “Kenapa Sayang?” Bunda bertanya sambil mendekapku di dadanya. “Orang-orang menyebutku seperti itu,” jawabku dengan sangat polos. Aku memeluk Bunda semakin erat dan merasakan perlindungannya.
Di waktu lainnya aku ajukan pertanyaan lain padanya.
“Bunda …, apa saya punya Ayah? Orang-orang itu bilang saya tak punya Ayah,” tanyaku. Bunda baru saja selesai mendongeng padaku waktu itu. Bunda tertegun begitu lama.
“Ada!” tegas Bunda meyakinkanku. “Di mana? Kenapa aku tak bisa menemuinya?”
Bunda membimbingku bangkit dari tempat tidur kayu berkepinding. Berjalan ke halaman tanpa penerangan.
“Kau lihat langit di atas sana?” Bunda bertanya tanpa melepas genggamannya. Aku mengangguk mengiyakan.
“Ayahmu ada di sana!” jawab Bunda meyakinkan.
Aku tidak melihat apa-apa. Selain langit hitam dan taburan berjuta bintang tidak ada gambar wajah manusia terlihat di sana.
Tapi aku tidak ingin bertanya lagi. Barangkali ayahku adalah satu diantara kerlip bintang-bintang itu. Besok jika anak-anak itu menggodaku lagi dan mengatakan aku tidak punya ayah aku sudah punya jawabannya.
Bunda lewati seluruh kehidupan berat sendiri. Mengasuh anak yang terus tumbuh tanpa pendamping di sisi. Tidak mudah memang. Tapi tidak sekalipun aku melihatnya berduka. Kecuali sekali pada suatu malam aku terbangun dan melihatnya mengisak di atas sehelai sajadah.
Setiap kali aku menanyakan hal itu pada Bunda, cuma air matalah yang kemudian menjadi jawabannya. Seperti menguak luka yang tak pernah kering sama sekali. Lalu aku jadi tak pernah tega memaksa Bunda untuk menjawabnya. Sebab Bunda terlalu mulia untuk terluka.
Aku tidak ingin mengecewakan Bunda. Perjuangannya tidak boleh sia-sia. Keinginannya melihatku sekolah setinggi mungkin memacu semangatku untuk belajar dengan giat. Aku selalu berhasil mencapai gelar juara sejak duduk di bangku SD hingga SMU. Lalu kemudian aku terpaksa berpisah dengan Bunda. Aku diterima masuk tanpa test di salah satu perguruan tinggi terkemuka di kota Pontianak. Sekarang aku bahkan telah diterima bekerja di salah satu Bank Syariah terkemuka yang baru berdiri. Aku ingin menjemput Bunda untuk mengajaknya pindah ke kota ini. Tapi Bunda menolak.
Aku telah dewasa kini. Telah siap untuk menikah dan berkeluarga. Sudah tiga orang lelaki shaleh yang datang mengajukan lamaran padaku. Tapi sudah tiga kali pula aku terpaksa menolaknya. Aku takut menceritakan keluargaku. Aku tak mungkin mengatakan bahwa aku anak sebuah bintang. “Rabbi …, aku hanya ingin tahu siapa lelaki yang menjadi ayahku. Hanya itu. Apa aku durhaka pada Bunda?”
“Kau beruntung masih mempunyai Bunda. Aku dibesarkan di panti asuhan, tak tahu siapa keluargaku.” Asti , teman satu kamarku mencoba menghiburku. Aku insyaf kini. Aku masih sangat beruntung mempunyai Bunda. Dalam sujudku malam itu aku menangis. Mohon kesempatan pada Allah untuk membahagiakan Bunda. Perempuan yang dicipta dari seribu kuntum bunga.
Di rumah aku lihat Bunda terbaring di tempat tidurnya. Tempat tidur yang sama seperti masa kecilku dulu. Tempat Bunda biasa mendekap, mendongeng dan berdoa sebelum lelap menyergapku.
“Kenapa Bunda tidak memberitahuku?” tanyaku setelah mencium tangannya.
“Bunda tak mau pikiranmu terganggu,” jawabnya sambil tetap mengukir senyum di wajahnya. Tapi aku melihatnya semakin lemah saja. “Bunda ingin mengatakan sesuatu tentang ayahmu, ia …,”
“Tidak perlu, Bunda,” potongku cepat. “Jangan katakan apa-apa. Tidak ada yang perlu Bunda jelaskan tentang masa lalu. Bunda tetaplah Bunda. Perempuan yang dicipta dari seribu kuntum bunga!”
Aku memang sudah tidak lagi perduli. Bunda manusia biasa. Mungkin pernah khilaf di masa lalunya. Tapi bagiku kini Bunda adalah anugerah Allah terbesar dalam hidup ini. Dua hari kemudian Bunda berpulang ke Rahmatullah.
Malam itu kembali aku menatap langit. Seperti waktu kecil dulu saat aku bertanya pada Bunda di mana ayahku. Bunda akan menunjuk ke arah langit. Tempat kegelapan malam dihiasi pendar jutaan bintang. Bunda kini telah pergi. Menyusul ayahku di tempat yang abadi. Dan aku tahu kini. Jika seorang lelaki shaleh datang untuk melamar dan bertanya tentang keluargaku, aku akan mengatakan bahwa aku adalah anak sepasang bintang!
***
Sumber: ervakurniawan.wordpress.com
Bunda tersentak waktu itu. Tak menyangka pertanyaan itu akan keluar dari sela bibir mungilku, gadis kecilnya yang baru berumur lima tahun. “Kenapa Sayang?” Bunda bertanya sambil mendekapku di dadanya. “Orang-orang menyebutku seperti itu,” jawabku dengan sangat polos. Aku memeluk Bunda semakin erat dan merasakan perlindungannya.
Di waktu lainnya aku ajukan pertanyaan lain padanya.
“Bunda …, apa saya punya Ayah? Orang-orang itu bilang saya tak punya Ayah,” tanyaku. Bunda baru saja selesai mendongeng padaku waktu itu. Bunda tertegun begitu lama.
“Ada!” tegas Bunda meyakinkanku. “Di mana? Kenapa aku tak bisa menemuinya?”
Bunda membimbingku bangkit dari tempat tidur kayu berkepinding. Berjalan ke halaman tanpa penerangan.
“Kau lihat langit di atas sana?” Bunda bertanya tanpa melepas genggamannya. Aku mengangguk mengiyakan.
“Ayahmu ada di sana!” jawab Bunda meyakinkan.
Aku tidak melihat apa-apa. Selain langit hitam dan taburan berjuta bintang tidak ada gambar wajah manusia terlihat di sana.
Tapi aku tidak ingin bertanya lagi. Barangkali ayahku adalah satu diantara kerlip bintang-bintang itu. Besok jika anak-anak itu menggodaku lagi dan mengatakan aku tidak punya ayah aku sudah punya jawabannya.
- * *
Bunda lewati seluruh kehidupan berat sendiri. Mengasuh anak yang terus tumbuh tanpa pendamping di sisi. Tidak mudah memang. Tapi tidak sekalipun aku melihatnya berduka. Kecuali sekali pada suatu malam aku terbangun dan melihatnya mengisak di atas sehelai sajadah.
Setiap kali aku menanyakan hal itu pada Bunda, cuma air matalah yang kemudian menjadi jawabannya. Seperti menguak luka yang tak pernah kering sama sekali. Lalu aku jadi tak pernah tega memaksa Bunda untuk menjawabnya. Sebab Bunda terlalu mulia untuk terluka.
Aku tidak ingin mengecewakan Bunda. Perjuangannya tidak boleh sia-sia. Keinginannya melihatku sekolah setinggi mungkin memacu semangatku untuk belajar dengan giat. Aku selalu berhasil mencapai gelar juara sejak duduk di bangku SD hingga SMU. Lalu kemudian aku terpaksa berpisah dengan Bunda. Aku diterima masuk tanpa test di salah satu perguruan tinggi terkemuka di kota Pontianak. Sekarang aku bahkan telah diterima bekerja di salah satu Bank Syariah terkemuka yang baru berdiri. Aku ingin menjemput Bunda untuk mengajaknya pindah ke kota ini. Tapi Bunda menolak.
- * *
Aku telah dewasa kini. Telah siap untuk menikah dan berkeluarga. Sudah tiga orang lelaki shaleh yang datang mengajukan lamaran padaku. Tapi sudah tiga kali pula aku terpaksa menolaknya. Aku takut menceritakan keluargaku. Aku tak mungkin mengatakan bahwa aku anak sebuah bintang. “Rabbi …, aku hanya ingin tahu siapa lelaki yang menjadi ayahku. Hanya itu. Apa aku durhaka pada Bunda?”
“Kau beruntung masih mempunyai Bunda. Aku dibesarkan di panti asuhan, tak tahu siapa keluargaku.” Asti , teman satu kamarku mencoba menghiburku. Aku insyaf kini. Aku masih sangat beruntung mempunyai Bunda. Dalam sujudku malam itu aku menangis. Mohon kesempatan pada Allah untuk membahagiakan Bunda. Perempuan yang dicipta dari seribu kuntum bunga.
- * *
Di rumah aku lihat Bunda terbaring di tempat tidurnya. Tempat tidur yang sama seperti masa kecilku dulu. Tempat Bunda biasa mendekap, mendongeng dan berdoa sebelum lelap menyergapku.
“Kenapa Bunda tidak memberitahuku?” tanyaku setelah mencium tangannya.
“Bunda tak mau pikiranmu terganggu,” jawabnya sambil tetap mengukir senyum di wajahnya. Tapi aku melihatnya semakin lemah saja. “Bunda ingin mengatakan sesuatu tentang ayahmu, ia …,”
“Tidak perlu, Bunda,” potongku cepat. “Jangan katakan apa-apa. Tidak ada yang perlu Bunda jelaskan tentang masa lalu. Bunda tetaplah Bunda. Perempuan yang dicipta dari seribu kuntum bunga!”
Aku memang sudah tidak lagi perduli. Bunda manusia biasa. Mungkin pernah khilaf di masa lalunya. Tapi bagiku kini Bunda adalah anugerah Allah terbesar dalam hidup ini. Dua hari kemudian Bunda berpulang ke Rahmatullah.
Malam itu kembali aku menatap langit. Seperti waktu kecil dulu saat aku bertanya pada Bunda di mana ayahku. Bunda akan menunjuk ke arah langit. Tempat kegelapan malam dihiasi pendar jutaan bintang. Bunda kini telah pergi. Menyusul ayahku di tempat yang abadi. Dan aku tahu kini. Jika seorang lelaki shaleh datang untuk melamar dan bertanya tentang keluargaku, aku akan mengatakan bahwa aku adalah anak sepasang bintang!
***
Sumber: ervakurniawan.wordpress.com
Ada Jin Yang Punya Twitter dan Bisa Meramal
![]() |
| (c) twitter.com/s_2017_s |
Dengan tulisan Ana Jini Haqiqi (Saya Adalah Jin Asli) pada profile, jelas mengundang banyak reaksi. Akun yang mengaku sebagai jin ini selalu berkicau dengan tweet yang memakai bahasa Arab gundul dan bahasa Inggris. Namun, beberapa waktu ini, akun @s_2017_s menggunakan bahasa Indonesia. Inilah tweet yang pernah dia tulis:
"Kepada semua manusia, saya adalah jin pertama yang menggunakan Twitter. Beberapa orang mungkin berpikir saya bohong dan saya adalah manusia. Sebenarnya saya adalah jin asli dan nyata, Anda akan melihat keajaiban masa depan di dalam akun Twitter saya,"
![]() |
| Gambar profile (c) twitter.com |
Beberapa waktu lalu, @s_2017_s bahkan meletakkan sebuah foto dengan tulisan berbahasa Indonesia:
Di bagian bawah tanah ini ada setengah harta dunia. Jutaan gram emas. Pemilik meninggal 1.500 tahun yang lalu.
Belum diketahui lokasi foto tanah dan rumput tersebut. Fenomena ini cukup menarik, karena @s_2017_s baru berkicau 337 kali tetapi pengikutnya sudah hampir 200.000.
Bagaimana pendapat Anda?
Sumber: vemale.com
Cerita Puasa Ramadan di Finlandia
Bulan Ramadan selalu penuh
dengan cerita. Setiap negara memiliki ceritanya sendiri-sendiri dengan
segala tantangannya. Ada negara yang puasanya kurang dari 12 jam, ada
negara yang muslimnya minoritas jadi suasana Ramadan tidak terasa sama
sekali. Bagaimana dengan negara-negara yang berada jauh dari Mekkah,
seperti Finlandia? Apakah ada cerita menarik seputar menjalankan puasa
Ramadan di sana?
Finlandia, terletak di Eropa bagian utara dan sudah dekat dengan kutub. Semakin jauh dari garis khatulistiwa, maka matahari terbit
dan tenggelamnya pun sudah beda. Di Finlandia, matahari bisa terbit
pukul 03.30 dini hari dan baru tenggelam menjelang tengah malam sekitar
pukul 23.30. Hal ini berarti durasi puasa di sana hampir satu hari penuh
atau 20 jam lebih. Kita yang biasanya puasa 12-14jam saja tentu
berpikir bagaimana ya bila harus berpuasa selama itu?
Salah satu kota di Finlandia, puasanya total
20 jam perhari. Kota itu bernama Rovaniemi yang terletak 66 derajat di
Lingkaran Arktik. Di sana ada sekitar 100 orang muslim dan beberapa dari
mereka berpuasa sekitar 12-15jam per hari. Namun ada yang benar-benar
puasa 20 jam per hari. Mereka mengatakan bahwa itu adalah salah satu
ujian dari Allah SWT dan mereka berusaha untuk melaluinya.
Selain
puasa selama itu, mereka juga kadang kesulitan mendapatkan makanan
halal. Muslim di Finlandia jumlahnya sangat sedikit sehingga hampir
tidak ada toko yang mengkhususkan diri menjual makanan dan bahan memasak
yang halal. Terkadang mereka harus menyembelih ayam atau menangkap ikan
sendiri bila kesulitan mendapatkan daging sapi yang dipotong dengan
cara yang halal. Namun bagi mereka, bulan Ramadan adalah berkah yang
selalu ditunggu kedatangannya. Karena mereka percaya, nikmat Ramadan
melampaui durasi puasa yang 20 jam lamanya.
Sumber: vemale.com
Langganan:
Postingan (Atom)






