Selasa, 08 April 2014

Airmata Sakura

Hamparan tikar bambu juga sederet makanan kecil masih berjejer di samping keranjang, termasuk sebuah buku harian berwarna merah muda milik Ayumi. Sementara Miyuki duduk mematung, melihat ke sekeliling Murayama Koen[1] yang dipadati pengunjung. Mata cokelatnya mencari-cari Ayumi, gadis berambur kuncir kuda dengan sebuah pita merah muda terselip di rambutnya. Baru saja, setelah dia menutup telpon dari Shinji, kekasihnya, dia tersadar kalau sahabatnya yang tadi duduk di sampingnya menghilang tanpa memberitahu ke mana dia akan pergi.

            Hingga matanya kembali tertumbuk pada halaman buku harian Ayumi yang terbuka. Ada sebuah catatan yang dilelehi airmata dan sebuah kelopak sakura yang jatuh tepat di atasnya.

            Hiroshi, aku tak tahu sebenarnya apa itu cinta. Padahal sering sekali aku menuliskannya. Aku tak mengerti, cinta itu di mana, kapan, mengapa, dan bagaimana. Aku hanya tahu -hanya sekedar tahu- bahwa cinta ada di dalam hati, dan dirasakan oleh jiwa. Hiroshi, adakah cinta lain yang mampu kurasakan selain dirimu?

            Hembusan angin musim semi yang berbaur dengan riuh tawa orang-orang yang sedang ber-hanami[2], tak menarik lagi bagi Miyuki. Dia berusaha keras mengusir pikiran buruk tentang Ayumi. Apalagi, dia tak bisa meninggalkan tempat duduknya hingga Shinji tiba.
***

            Sekelebat hitam mengelilingiku tiba-tiba. Mata tajam mereka yang tersembunyi di balik topeng ninja, menatapku tanpa ampun. Mereka berdiri dalam posisi menyerang dengan tangan kanan yang sudah siap menarik samurai keluar dari sarungnya.

            "Dare wa[3]?" tanya salah satu di antara mereka dengan suara kasar.

            Aku menelan ludah. "Yamada Ayumi." Kerongkonganku tercekat.

            Tatapan mereka makin menyelidik.

            "Dia temanku!" sebuah pekikan berasal dari belakangku, di balik rindangnya pohon ceri tempatku bersandar.

            Kemudian tengkukku terasa ditiup angin, dan sesosok pemuda seusiaku berdiri di sampingku. Sikapnya seolah melindungiku. Hati-hati sekali dia bergerak mendekat, lalu tangannya terulur pelan setelah orang-orang yang tadi mengelilingiku kembali berdiri tegap.

"Ayo, kita pulang! Aku kan sudah bilang, jangan main-main dengan pakaian para tojin[4] itu lagi." Setelah tangannya menggenggam tanganku. "Maaf, kami permisi!"

            Aku tak mengerti apa yang selanjutnya terjadi, tapi kini aku berada di punggungnya, berkelebatan di antara dahan-dahan ceri yang menjatuhkan sakura. Bahkan, jika aku ingin pun, aku dapat meraih beberapa sakuranbo[5] itu dan mencicipi rasa sepatnya. Kemudian ....

            "Turunlah!"

            Takut-takut, aku turun dari punggungnya. Dan saat dia berbalik ... aku menemukan mata teduh yang hampir dua tahun ini tak sanggup kuusir dari pikiranku. Gelombang rindu yang telah terlalu lama tertahan di tengah lautan hatiku, kini menghempas, menciptakan buih-buih yang tak tahu harus bergembira atau kembali menangis pilu.

            "Hiroshi?" tanpa sadar bibirku menggumamkan nama itu. Kusadari mataku mulai berembun lagi.

            "Aku bukan Hiroshi." Suara lembutnya berbaur dalam hembusan angin musim semi yang menjatuh berkelopak-kelopak sakura di sekitar kami. "Tadi, siapa namamu?"

            "Yamada Ayumi."

            "Untuk apa kamu datang kemari?"

            Aku menggeleng. "Aku bahkan enggak tahu sekarang aku di mana." Kualihkan pandanganku pada langit biru cerah, begitu bersih. Sementara tak ada bangunan lain yang kutemukan di sekitarku, selain pohon-pohon ceri yang sedang berbunga lebat.

            Dia menghela napas pelan. "Darimana asalmu?"

            "Kyoto."

            Matanya mulai menyelidik. Tetapi rona sendu dari matanya yang hitam pekat, tak membuatku takut.

            "Apa aku masih di Kyoto?"

            Dia mengangguk cepat. Saat itu, barulah kusadari kalau rambutnya panjang dan dicepol ke atas seperti pegulat. Juga pakaiannnya, dia menggunakan yukata[6] biru tua yang terlihat baru. Di pinggang kirinya, kutemukan sebilah pedang berukuran kecil terselip di obi[7]-nya. Bahkan dia hanya memakai geta[8] sebagai alas kaki.

            "Apa sebelum kamu berada di sini, sebuah kelopak sakura terkena airmatamu?" tanyanya halus.

            Aku tak mengerti apa yang ditanyakannya, maka hanya kumiringkan kepalaku ke kanan, seperti yang biasa kulakukan saat sedang merasa bingung, sebagai jawabannya.

            Perlahan, senyum di wajahnya memudar, berganti wajah sendu, serupa binar matanya yang sejak tadi tak bisa berbohong. "Kamu mirip sekali dengan Sachi, kekasihku yang telah dinikahi Yang Mulia Shogun[9] dan dijadikannya selir muda." Matanya menerawang. "Oh ya, namaku Jiraemon, bukan Hiroshi."

            Dia melangkah menjauh, lalu duduk bersandar pada batang pohon ceri. Dia mengeluarkan sesuatu dari dalam sebuah kantung yang terikat kuat di obi-nya, sebuah sisir kayu berukir.

            Aku mendekatinya, lalu duduk tenang di sampingnya. Kulihat tatapannya yang terus saja lekat pada sisir itu.

            "Ayumi, sepertinya aku yang memanggilmu datang kemari. Gomen nasai[10]."

            "Aku enggak mengerti."

            Matanya berembun, tatapannya kembali tertuju padaku, tepat ke dalam mataku. Tuhan, dia benar-benar mirip dengan Hiroshi, tak ada sedikit pun beda yang mampu kutemukan selain pakaiannya. Tidak. Bahkan pakaian yang dikenakannya, serupa dengan yang dulu dia kenakan saat pergi bersamaku untuk menikmati Festival Musim Panas.

            Kemudian dia beralih lagi dariku, cukup lama dia terdiam, hanya bersandar dengan mata yang terus lekat menatap langit, menikmati pikirannya sendiri. Aku tenggelam dalam ketenangannya, menunggu sebuah suara dari kalimat yang akan kembali dia ucapkan. Tapi hingga langit mulai berwarna kemerahan, dia masih tak juga mau berbicara.

            "Kamu ... mungkin Dewa yang mengirimmu sebagai pengobat luka hatiku selama ini. Ayumi, kamu mirip sekali dengan Sachi, gadis yang menghadiahkan aku sisir ini sebagai salam perpisahan sebelum dia diambil paksa oleh Shogun dari sisiku. Lalu dia memilih bunuh diri setelah tak bisa melarikan diri dari istana." Suaranya penuh pilu. "Tunggulah, akan kupetikkan beberapa kelopak sakura yang akan membawamu kembali."

            Aku tak tahu harus berujar apa, atau memberikan jawaban apa melalui ... sekadar mengangguk atau menggeleng. Dia berdiri, lalu melompat cepat pada batang ceri di belakangku. Kaki ringannya berlompatan di dahannya yang rapuh seperti melayang, dan tangannya berkali-kali meraih kelopak sakura yang baru saja mekar merekah merah muda. Dalam beberapa detik, dia kembali duduk di sampingku, kali ini tepat di hadapanku agar dia dapat menatap wajahku lebih lekat.

            Jantungku berdegub kuat, menimbulkan beriak di mataku yang mejatuhkan dua tetes airmata. Tetesan itu menerobos dari pelupukku tanpa mampu kucegah.

            Mendapati mataku yang berair, dia hanya terdiam. Kudapati raut bingung di wajahnya, dan gerakan tangannya kikuk. Dia hanya meletakkan kelopak-kelopak itu di pangkuannya.

            "Kenapa kamu menangis, Ayumi?"

            Bibirku bergetar. Tangan kananku menarik keluar sebuah rantai kalung keperakan yang telah lama bergantung di leherku. Kutunjukkan padanya bandulnya yang merah muda berbentuk bunga sakura dan kubuka bandul kalungku, memperlihatkan potret senyum manisku dan Hiroshi saat Festival Musim Panas yang pertama dan terakhir kami.

            "Itu ... seperti aku ... dan Sachi." Suara Jiraemon terbawa angin.

            "Ini aku dan Hiroshi, hampir dua tahun yang lalu. Dia meninggal dalam sebuah kecelakaan saat sedang bersepeda menuju ke Murayama Koen untuk menemuiku di akhir musim dingin. Aku menemukannya bersimbah darah di antara kerumunan orang-orang dan suara sirine ambulance yang menakutkan. Dia menatapku penuh cinta sebelum matanya terpejam selamanya."

            Jiraemon menatapku sendu. Tangan kanannya terulur, menghapus beberapa tetes airmataku yang memberontak, meluncur bergiliran dari kedua mataku.

            "Jiraemon, kalau boleh aku tahu, doa apa yang kamu minta pada Dewa, sampai-sampai tadi kamu meminta maaf padaku?"

            Dia tertunduk. "Doa bodohku, agar Dewa dan kelopak-kelopak sakura berkenan mengembalikan Sachi padaku. Ternyata kamu yang datang, gadis dengan kenangan tentang pemuda yang rupanya sama sepertiku." Tangannya cepat mengumpulkan kelopak sakura di pangkuannya. "Pulanglah, Ayumi!" lalu, dia berlutut dan menjatuhkan kelopak-kelopak itu ke atas kepalaku.

            "Jika takdir telah menautkan hatiku dengann Sachi, juga hatimu dengan seseorang yang begitu serupa denganku itu, maka takdir pula yang akan menuntun hidupku dan hidupmu kembali berjalan sesuai dengan cahaya kebahagiaan hingga aku, dan tentu juga kamu, akan menemukan belahan hati kita di surga." Itulah suara terakhirnya Jiraemon yang kudengar.

            Mataku masih saja berembun, tapi aku dapat melihat dengan jelas cahaya merah muda yang berpendar di sekitar tubuhku, memudarkan sosok Jiraemon yang menatapku tanpa berkedip.

            "Ayumi-chan, kimi wa zutto aisuru.[11]" suara Hiroshi ditiupkan angin hingga ke pendengaranku.

            Sekelebat, tiba-tiba kutemukan wajah Hiroshi yang tersenyum. Seragam musim dingin berwarna biru tuanya, juga rambut pendeknya yang selalu diberi gel rambut agar berdiri, juga kacamata berbingkai hitam tipisnya yang bertengger di hidungnya, membuatku semakin merindukannya. Kemudian tangannya mengelus kepalaku beberepa kali, diiringi aroma woody yang biasa kubaui dari tubuhnya.

            "Berbahagialah. Aku akan menunggumu di sini, di surga," ucapnya terakhir kali, sebelum tubuhnya kembali memudar.
***

            "Apa yang sedang kamu lakukan disini? Kamu mau bunuh diri?" bentak Shinji pada Ayumi. Dia menarik paksa tangan kurus sahabat kekasihnya itu menuju ke tepi jalan.

            Para penjual makanan dan minuman yang berjejer di sekitar jalan masuk Murayama Koen yang berseragam warna-warni, memperhatikan mereka sebentar. Baru saja Ayumi hampir tertabrak sebuah motor yang melintas.

            Ayumi tersadar. Matanya beralih ke sekelilingnya, menemukan keramaian dan lalu-lalang kendaraan. Sementara wajah Shinji memerah, tapi matanya terlihat tak tega.

            "Aku tahu ... Hiroshi meninggal di tempat ini, tepat di sini. Tapi apa pantas kamu juga ingin mati? Kamu nggak tahu, Miyuki mencemaskanmu, hingga memaksaku juga untuk ber-hanami di Murayama Koen ini untuk merelakan kepergian Hiroshi bersama-sama. Bahkan, hhh ... karena Hiroshi pernah memintaku untuk menjagamu saat dia sedang enggak bersamamu, sampai saat ini ... mana sanggup kutatap potretnya bersamaku, apalagi mengunjungi makamnya, terutama tempat ini."

            Shinji melepaskan cengkeraman tangannya. Menuntun Ayumi kembali menuju ke tengah Murayama Koen, tempat Miyuki menunggunya dengan cemas.

            Melihat Ayumi yang berjalan tertunduk mendekat, Miyuki bangkit, kelegaan tergambar jelas di wajahnya. Menemukan mata Ayumi yang memerah dan sedikit bengkak, dia memeluk erat sahabatnya itu, mengelus-elus punggungnya.

            Ayumi kembali terisak, sementara Shinji menghalangi pandangan orang-orang dari tangisan gadis yang sudah dianggapnya adik, sejak dia menjalin cinta dengan adik sepupunya sendiri.

            "Miyuki, tadi aku bertemu Hiroshi. Dia juga merindukan aku, Miyuki."

            Angin musim semi kembali berhembus, kali ini lebih kencang dan membalik halaman buku harian Ayumi, menjatuhkan sekelopak bunga sakura yang tadi terkena lelehan airmatanya ke atas tikar bambu.

Sumber: kawankumagz.com

Tidak ada komentar:

Posting Komentar